BENGKULU — Laga ini mempertemukan dua tim dengan nasib berbeda di fase grup. Jerman nyaris sempurna setelah menang beruntun atas Curacao dan Pantai Gading, tapi harus mengakui keunggulan Ekuador di laga pamungkas. Paraguay hanya mengoleksi satu poin dari Grup D, beruntung lolos lewat jalur peringkat ketiga terbaik setelah bermain imbang melawan Australia.
Dalam empat partisipasi terakhir di Piala Dunia, Paraguay selalu mencapai fase gugur, meski mentok di babak 16 besar. Sebaliknya, Jerman baru saja melewati dua edisi dengan kegagalan di fase grup — pertama kali dalam 64 tahun sejarah mereka tidak lolos ke knockout stage secara beruntun.
Namun, statistik head-to-head bicara lain. Pertemuan terakhir kedua tim di turnamen resmi terjadi pada Piala Dunia 2002, saat Jerman melaju hingga final. Empat gelar juara dunia di lemari trofi mereka tetap jadi modal psikologis yang tak bisa diabaikan.
Satu nama jadi sorotan utama di kubu Jerman: Deniz Undav. Penyerang Stuttgart itu baru tampil sebagai pemain pengganti di turnamen ini, tapi sudah mengoleksi tiga gol. Rata-rata, ia mencetak gol setiap 50 menit 47 detik — lebih efisien dari Erling Haaland atau Kylian Mbappe.
Pelatih Julian Nagelsmann punya skuad penuh talenta, tapi kehadiran Undav sebagai supersub memberi dimensi serangan berbeda. Ia bisa menjadi kartu truf yang menentukan saat pertahanan Paraguay mulai kelelahan di babak kedua.
Dengan kualitas skuad yang lebih merata dan performa individu seperti Undav, Jerman diunggulkan menang telak. Paraguay punya semangat juang tinggi, tapi secara permainan terbuka sulit menandingi pressing dan variasi serangan Die Mannschaft.
Kami memprediksi Jerman menang 3-0 atas Paraguay, dengan Undav kembali menjadi aktor penutup yang membuat pendukungnya tersenyum.