BENGKULU SELATAN — Angka 42 ton per hari itu membuat TPA Bengkulu Selatan bekerja di luar kapasitas ideal. Tiara menjelaskan, tingginya volume sampah terjadi karena kesadaran warga untuk memilah sampah dari sumber, yakni rumah tangga, masih sangat minim.
“Pengurangan sampah dari sumber masih sangat rendah. Akibatnya, sampah yang masuk ke TPA mencapai sekitar 42 ton. Kondisi ini membuat beban TPA semakin besar,” ujar Tiara.
TPA Bengkulu Selatan sejatinya dirancang menggunakan sistem controlled landfill atau lahan uruk terkendali. Dalam sistem ini, tumpukan sampah seharusnya dipadatkan lalu ditutup tanah uruk secara berkala agar tidak menimbulkan bau dan mencemari lingkungan.
Namun, aturan itu belum berjalan optimal. Tiara mengungkapkan, idealnya penutupan tanah uruk dilakukan minimal satu kali dalam sepekan. Faktanya, anggaran yang tersedia bahkan belum cukup untuk satu kali penimbunan.
“Kalau sesuai standar controlled landfill, penutupan dengan tanah uruk dilakukan minimal satu kali dalam seminggu. Tetapi saat ini kami belum mampu melaksanakannya karena anggaran yang tersedia sangat terbatas. Bahkan anggaran kegiatan di TPA belum cukup untuk satu kali penimbunan,” jelas Tiara.
Persoalan di TPA kian kompleks dengan kondisi alat berat yang memprihatinkan. Dari dua unit yang dimiliki DLHK, yakni ekskavator dan buldozer, hanya satu yang bisa dioperasikan.
“Bulldozer mengalami kerusakan yang cukup berat sehingga tidak bisa dioperasikan. Tahun ini kami sudah mengusulkan perbaikannya. Sementara seluruh aktivitas pengelolaan sampah di TPA saat ini hanya mengandalkan satu unit ekskavator yang masih dalam kondisi layak jalan,” kata Tiara.
DLHK Bengkulu Selatan menekankan bahwa persoalan sampah tidak akan tuntas hanya dengan mengandalkan anggaran pemerintah dan perbaikan alat berat. Peran aktif warga untuk mulai memilah sampah organik dan non-organik dari rumah dinilai menjadi solusi utama.
“Pengurangan sampah harus dimulai dari rumah tangga. Jika itu bisa berjalan, maka beban TPA akan jauh berkurang dan pengelolaannya dapat lebih optimal,” tutup Tiara.