BENGKULU — Asosiasi Mobil Penumpang China (CPCA) merilis proyeksi terbaru yang mengejutkan. Penjualan mobil di Tiongkok diperkirakan turun hingga 11% pada 2026. Angka ini jauh lebih dalam dari perkiraan sebelumnya yang hanya minus 1%.
Pasar otomotif Tiongkok kini menghadapi tekanan berat. Pengurangan subsidi kendaraan listrik secara bertahap melemahkan daya beli konsumen. Krisis properti yang berkepanjangan terus menggerus aset dan kepercayaan publik.
Persediaan kendaraan yang menumpuk di dealer semakin memperparah situasi. Kondisi ini memaksa produsen mobil mencari jalan keluar ke luar negeri.
BYD menjadi salah satu yang paling agresif dalam ekspansi global. Perusahaan asal Shenzhen itu terus memperkuat penetrasi di Eropa, Asia Tenggara, dan Amerika Latin. Langkah ini menjadi penyelamat saat pasar domestik mulai lesu.
Menurut CPCA, prospek suram ini akan berlangsung setidaknya hingga 2026. Produsen mobil, termasuk BYD, diprediksi akan semakin bergantung pada pasar internasional untuk mempertahankan pertumbuhan.