BENGKULU — Berdasarkan data perdagangan Senin (21/4), harga kontrak berjangka tembaga di London Metal Exchange (LME) menguat 0,8% ke level US$9.850 per ton. Dalam sepekan, akumulasi kenaikan mencapai 1,5%, memperpanjang tren positif dari pekan sebelumnya.
Pasar memilih untuk melihat prospek permintaan jangka panjang ketimbang terpancing sentimen sementara dari memanasnya kembali situasi Iran-Israel. Para pelaku pasar menilai fundamental permintaan tembaga—terutama dari sektor energi hijau dan elektrifikasi—masih solid.
"Pasar komoditas saat ini lebih fokus pada data ekonomi China dan prospek stimulus fiskal di sana, bukan pada risiko geopolitik yang sifatnya sporadis," ujar analis komoditas dari Mirae Asset Sekuritas, Robert Pakpahan.
Kenaikan harga tembaga global berdampak langsung pada emiten pertambangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), khususnya yang memiliki lini bisnis mineral logam. Saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) menjadi dua saham yang paling diuntungkan dari tren ini.
Analis mencatat bahwa kenaikan harga tembaga sebesar 10% dapat mendongkrak laba bersih emiten tambang nasional hingga 15-20%, tergantung pada struktur biaya produksi dan kontrak penjualan masing-masing perusahaan.
Meski tren mingguan positif, volatilitas masih mengintai. Pasar akan mencermati data inflasi Amerika Serikat pekan depan serta keputusan suku bunga bank sentral China yang dapat memicu pergerakan tajam harga tembaga.
Investor disarankan mencermati level support US$9.600 per ton dan resistance US$10.000 per ton sebagai batas psikologis berikutnya. Investasi mengandung risiko.