Resep Tempoyak Ikan Patin Khas Bengkulu, Hidangan Fermentasi Durian yang Wajib Dicoba

Penulis: Hendrizal Satria  •  Jumat, 17 Juli 2026 | 14:40:01 WIB
Ikan patin segar dilumuri tempoyak sebelum dibungkus daun pisang dan dibakar.

BENGKULU — Tempoyak telah lama menjadi bagian dari tradisi kuliner di Pulau Sumatera, khususnya di Provinsi Bengkulu dan Jambi. Makanan ini terbuat dari durian yang difermentasi, menghasilkan cita rasa asam yang khas dan aroma yang kuat.

Meski asal-usulnya diperdebatkan antara Bengkulu dan Jambi, tempoyak tetap menjadi lauk favorit di berbagai daerah. Salah satu olahan yang paling digemari adalah tempoyak ikan patin, perpaduan rasa asam dari tempoyak dengan gurihnya daging ikan patin segar.

Bahan-Bahan yang Diperlukan

Untuk membuat tempoyak ikan patin, siapkan bahan-bahan berikut:

  • 1 ekor ikan patin segar, belah menjadi 2 bagian
  • 2 batang serai, digeprek
  • 2 helai daun salam
  • 6 cm lengkuas, digeprek dan bagi 2
  • 4 lembar daun pisang sebagai pembungkus
  • 4 buah tusuk sate
  • Tempoyak secukupnya

Cara Memasak Tempoyak Ikan Patin

Proses memasaknya cukup sederhana. Ikan patin segar yang sudah dibersihkan dan dibelah dua bagian kemudian dilumuri dengan tempoyak secara merata. Setelah itu, bumbui dengan serai, daun salam, dan lengkuas yang sudah digeprek.

Bungkusan ikan yang sudah dibumbui kemudian dibungkus rapat dengan daun pisang. Gunakan tusuk sate untuk mengunci kedua ujung bungkusan agar tidak terbuka saat dimasak. Setelah semua siap, bungkusan ikan bisa langsung dibakar di atas bara api atau dipanggang hingga matang.

Tips Menikmati Tempoyak Ikan Patin

Tempoyak ikan patin paling nikmat disantap selagi hangat bersama nasi putih. Aroma daun pisang yang terbakar berpadu dengan asamnya tempoyak dan gurihnya ikan patin menciptakan harmoni rasa yang khas. Hidangan ini cocok dinikmati sebagai lauk utama saat makan siang atau malam.

Bagi yang belum pernah mencoba, tempoyak ikan patin bisa menjadi pengalaman kuliner baru yang menarik. Rasa asam fermentasi durian yang unik justru menjadi daya tarik tersendiri bagi para pecinta kuliner tradisional Nusantara.

Reporter: Hendrizal Satria
Sumber: radarutara.disway.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top