BOJONEGORO — Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-129 yang digelar Kodim 0813 Bojonegoro tidak melulu soal pembangunan fisik. Di sela-sela pengerjaan infrastruktur, personel satgas menyempatkan diri menjalin komunikasi sosial dengan warga di lokasi sasaran.
Suasana hangat terlihat di teras rumah milik warga RT 021/RW 004 Dusun Kedungpandan. Prada Ridho dan Prada Yustik duduk lesehan, bercengkerama dengan beberapa tetangga. Topik obrolan mengalir dari harga kebutuhan pokok hingga cerita keseharian di desa. Tidak sedikit warga yang penasaran dengan pengalaman kedua prajurit muda itu selama bertugas di medan.
Letda Inf Ady Yuniarto, Komandan SST-1 SSK Satgas TMMD ke-129 Kodim 0813 Bojonegoro, mengatakan bahwa kegiatan semacam ini menjadi kunci keberhasilan program di lapangan. “Melalui komunikasi sosial seperti ini, kami ingin lebih dekat dengan masyarakat. Kami hadir bukan hanya untuk membangun sarana dan prasarana desa, tetapi juga membangun kebersamaan, saling bertukar pengalaman, serta memperkuat kemanunggalan TNI dengan rakyat,” ujarnya.
Menurut Letda Inf Ady, keberhasilan TMMD tidak bisa diukur semata dari rampungnya proyek fisik. “Yang lebih penting adalah kuatnya silaturahmi, semangat gotong royong, dan kepedulian yang terjalin antara prajurit dan masyarakat selama program berlangsung,” imbuhnya.
Ia menambahkan, hubungan harmonis antara satgas dan warga akan mendukung kelancaran seluruh tahapan pembangunan. Sebaliknya, jika komunikasi renggang, manfaat program sulit dirasakan secara optimal.
Pendekatan humanis yang diterapkan di Desa Kesongo diharapkan menjadi modal sosial yang bertahan lama. Warga tidak hanya mendapat infrastruktur baru, tetapi juga ikatan emosional dengan aparat TNI yang bertugas di desa mereka.
Keakraban yang tercipta di teras rumah itu menjadi bukti bahwa program TMMD mampu merawat tradisi gotong royong dan persaudaraan. Bagi warga Dusun Kedungpandan, kehadiran Prada Ridho, Prada Yustik, dan personel satgas lainnya bukan sekadar petugas pembangunan, melainkan bagian dari keluarga besar desa. (**)