BENGKULU — Nilai ekspor Provinsi Bengkulu pada semester pertama 2026 mencapai Rp418,7 miliar, dengan volume 398.383,47 metrik ton. Angka ini berbanding terbalik dengan realisasi penerimaan bea cukai yang baru mencapai Rp1,8 miliar, atau 2,10 persen dari target APBN tahun ini sebesar Rp85 miliar. Meski nominal penerimaan masih kecil, pertumbuhannya secara year on year melonjak 3.683,71 persen dibanding periode sama 2025.
Kepala KPPBC TMP C Bengkulu Nazwar mengakui capaian penerimaan masih jauh dari target. Namun, laju pertumbuhan yang sangat tinggi menjadi sinyal positif bagi aktivitas ekonomi di Bengkulu. "Walaupun realisasi penerimaan hingga semester pertama baru mencapai Rp1,8 miliar atau sekitar 2,10 persen dari target APBN, apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, kinerja penerimaan mengalami pertumbuhan sebesar 3.683,71 persen secara year on year," ujar Nazwar, Sabtu (25/8).
Ekspor Bengkulu ditopang oleh enam komoditas utama yang berhasil menembus pasar internasional. Cangkang sawit, kayu, kopi, batu bara, lintah, dan kepiting menjadi penyumbang terbesar dalam enam bulan pertama tahun ini. Dari sisi volume, batu bara masih menjadi andalan meski ekspornya mengalami hambatan.
Nazwar menjelaskan, ekspor batu bara belum optimal karena sejumlah perusahaan tambang belum memperoleh persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB). "Untuk komoditas batu bara, masih terdapat hambatan karena beberapa perusahaan belum memperoleh persetujuan RKAB, sehingga kegiatan ekspor belum dapat berjalan secara maksimal," jelasnya. Pihaknya terus mendorong perceptatan penerbitan RKAB agar aktivitas ekspor Bengkulu bisa lebih bergairah ke depan.