21 Kecamatan di 3 Kabupaten Bengkulu Berstatus Bahaya Tinggi Kekeringan, BPBD Minta Warga Hemat Air

Penulis: Hendrizal Satria  •  Selasa, 04 Agustus 2026 | 21:53:01 WIB
Warga melintasi area persawahan yang mengering saat musim kemarau di Bengkulu, Senin (3/8/2026).

BENGKULU — Sebanyak 21 kecamatan di Provinsi Bengkulu masuk zona bahaya tinggi kekeringan pada musim kemarau tahun ini. Pemetaan itu berdasarkan Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) yang dikeluarkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Provinsi Bengkulu, Khristian Hermansyah, menyebut tidak ada satu pun dari total 128 kecamatan di provinsi itu yang berstatus risiko rendah. Sisanya, 107 kecamatan, berada pada kategori sedang.

13 Kecamatan di Mukomuko Paling Rawan

Kabupaten Mukomuko menjadi daerah dengan sebaran terbanyak. Dari 21 kecamatan berstatus bahaya tinggi, 13 di antaranya berada di kabupaten ini: Sungai Rumbai, Air Dikit, Air Manjunto, V Koto, XIV Koto, Penarik, Selagan Raya, Teramang Jaya, Air Rami, Malin Deman, Ipuh, Pondok Suguh, Lubuk Pinang, dan Kota Mukomuko.

Kategori bahaya tinggi berarti wilayah itu berpeluang besar mengalami kekeringan dengan cakupan terdampak luas. Ketersediaan air dipastikan berada jauh di bawah kebutuhan normal warga.

Pinang Belapis dan 4 Kecamatan di Bengkulu Utara

Di Kabupaten Lebong, Kecamatan Pinang Belapis tercatat sebagai wilayah dengan risiko tertinggi. Sementara di Kabupaten Bengkulu Utara, status serupa meliputi Kecamatan Marga Sakti Sebelat, Napal Putih, Putri Hijau, dan Pulau Enggano.

Pulau Enggano menjadi perhatian khusus karena merupakan wilayah kepulauan. Ketergantungan pada air hujan dan sumber air terbatas membuat daerah ini rentan saat kemarau berkepanjangan.

Imbauan BPBD: Bijak Pakai Air, Jangan Bakar Lahan

Khristian mengimbau masyarakat mulai menghemat penggunaan air sejak sekarang, bukan menunggu krisis terjadi. Ia juga meminta warga tidak membakar lahan atau pekarangan selama musim kemarau karena berisiko memicu kebakaran hutan dan lahan.

"Kami mengimbau masyarakat menggunakan air secara bijak, tidak membakar lahan atau pekarangan selama musim kemarau, serta tetap waspada karena apabila kemarau panjang disusul hujan dengan intensitas tinggi, potensi banjir dan longsor juga bisa terjadi," kata Khristian saat dikonfirmasi, Senin (3/8/2026).

Ia menambahkan, kewaspadaan ganda diperlukan karena transisi musim kemarau ke penghujan kerap memicu bencana hidrometeorologi. Wilayah dengan kontur perbukitan seperti Lebong dan Bengkulu Utara berisiko mengalami longsor jika hujan deras turun setelah tanah kering dalam waktu lama.

Reporter: Hendrizal Satria
Sumber: detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top