BENGKULU — Upacara adat di Bengkulu tidak pernah berhenti menjadi denyut nadi budaya masyarakatnya. Meski zaman terus bergerak, sejumlah ritual warisan leluhur tetap dilaksanakan, kini dengan nuansa yang telah dikombinasikan dengan ajaran Islam sebagai agama mayoritas warga.
Perpaduan ini dinilai tidak mengubah nilai-nilai dasar yang terkandung dalam setiap prosesi. Justru, akulturasi tersebut menjadi bukti adaptasi budaya yang hidup dan relevan dengan kehidupan masyarakat masa kini.
Upacara yang paling dikenal dan rutin digelar adalah Tabot. Ritual ini merupakan bentuk berkabung atas meninggalnya Syaid Agung Husein Bin Ali Bin Abi Thalib, salah seorang cucu Nabi Muhammad SAW.
Inti dari upacara Tabot adalah memperingati usaha para pemimpin Syiah dan pengikutnya dalam mengumpulkan bagian tubuh Hussein. Di Bengkulu, perayaan ini telah menjadi atraksi budaya tahunan yang menyedot perhatian warga maupun wisatawan.
Berbeda dengan Tabot, Kedurai Agung merupakan tradisi turun-temurun yang dipraktikkan oleh masyarakat suku Rejang. Upacara ini menjadi medium komunikasi spiritual dengan para leluhur.
Melalui prosesi ini, masyarakat memanjatkan permohonan perlindungan dari berbagai macam bencana. Mulai dari bencana alam, penyakit, serangan hama, hingga wabah yang menyerang ternak dan tanaman.
Kedurai Agung menjadi cerminan kearifan lokal dalam menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Tradisi lain yang masih lestari adalah Bayar Sat. Upacara ini merupakan bentuk penghormatan dan rasa syukur yang dilakukan oleh masyarakat, mencerminkan hubungan erat antara manusia dengan alam sekitarnya.
Pelaksanaan Bayar Sat biasanya dilakukan sebagai bagian dari siklus hidup atau kegiatan sehari-hari yang dianggap penting oleh masyarakat setempat.
Yang menarik dari upacara-upacara adat di Bengkulu adalah bagaimana ia beradaptasi. Kepercayaan asli yang mendasari ritual kini dijalankan beriringan dengan syariat Islam.
Prosesi doa dan permohonan yang dulunya ditujukan kepada leluhur, kini diisi dengan lantunan doa sesuai ajaran agama. Namun, simbol-simbol dan nilai budaya lama tetap dipertahankan sebagai identitas.
Keberlangsungan upacara-upacara ini menunjukkan bahwa masyarakat Bengkulu tidak sekadar menjaga tradisi, tetapi juga merawat ingatan kolektif dan kearifan lokal di tengah arus modernisasi.