BENGKULU — Aktivitas ekspor-impor di Pelabuhan Pulau Baai, Bengkulu, sepanjang semester pertama 2026 masih menghasilkan catatan positif. Namun, laju surplus perdagangan luar negeri provinsi ini melambat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Data BPS Bengkulu menunjukkan nilai ekspor yang lebih tinggi dibandingkan impor masih mampu dipertahankan. Meski begitu, penyusutan surplus yang hampir separuh menjadi sinyal perlambatan yang perlu diwaspadai.
Pada Januari hingga Juni 2026, surplus neraca dagang Bengkulu tercatat US$28,29 juta. Angka ini turun drastis dari surplus US$53,85 juta pada periode yang sama di 2025.
Penurunan tersebut setara 47,46 persen. Pelemahan ekspor menjadi pemicu utama menyusutnya kinerja perdagangan daerah.
Perlambatan ini terjadi seiring menurunnya pengiriman sejumlah komoditas andalan Bengkulu ke pasar internasional. Kendati demikian, nilai ekspor masih tercatat lebih besar dibandingkan total impor yang masuk.
Kondisi ini menunjukkan aktivitas perdagangan luar negeri masih berkontribusi positif terhadap perekonomian daerah. Namun, tekanan terhadap permintaan global atau penurunan harga komoditas patut menjadi perhatian para pemangku kepentingan.
Meski nilainya menyusut, posisi neraca perdagangan yang tetap berada di zona surplus memberikan ruang fiskal bagi perekonomian Bengkulu. Aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Pulau Baai sebagai gerbang utama ekspor masih berjalan.
Pemerintah daerah diharapkan dapat mendorong diversifikasi produk ekspor untuk menjaga stabilitas kinerja perdagangan ke depan. Langkah ini penting mengingat ketergantungan pada sejumlah komoditas unggulan membuat neraca dagang rentan terhadap gejolak harga global.