KSP Dorong Bengkulu Wujudkan Pemerataan Pendidikan Bermutu Lewat Sekolah Nasional Terintegrasi

Penulis: Yusrizal Ahmad  •  Senin, 10 Agustus 2026 | 16:09:32 WIB
Kepala Staf Kepresidenan menegaskan Sekolah Nasional Terintegrasi menjadi intervensi strategis negara untuk pemerataan pendidikan bermutu di seluruh Indonesia.

BENGKULU — Kantor Staf Presiden (KSP) menyatakan penyelenggaraan Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) merupakan langkah nyata pemerintah dalam menghadirkan pendidikan bermutu yang dekat dengan masyarakat. Kepala KSP Dudung Abdurachman mengatakan program ini menjadi intervensi strategis negara agar akses pendidikan berkualitas dapat menjangkau seluruh wilayah Indonesia, termasuk daerah-daerah yang selama ini sulit terlayani.

“Sekolah Nasional Terintegrasi ini bukan sekadar pembangunan infrastruktur fisik, melainkan intervensi strategis negara dalam menghadirkan pendidikan berkualitas yang dekat dengan masyarakat hingga ke seluruh pelosok negeri,” kata Dudung dalam kegiatan Pembukaan MPLS Sekolah Nasional Terintegrasi Angkatan Pertama di Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, Senin (14/7), yang disiarkan melalui YouTube Kemendikdasmen.

Perintis Pendidikan Terintegrasi

Dudung menjelaskan dimulainya pembelajaran angkatan pertama SNT menjadi bagian dari sejarah pendidikan Indonesia. Pasalnya, sekolah tersebut menjadi perintis dan pelopor penyelenggaraan pendidikan terintegrasi dari wilayah barat Pulau Sumatera hingga Papua. Kehadiran SNT juga dinilai menjadi kesempatan untuk mengukur peningkatan dan pemerataan pendidikan berkualitas di seluruh wilayah Indonesia.

Pihaknya memiliki mandat untuk memastikan program prioritas Presiden Prabowo tersebut dapat direalisasikan tanpa hambatan. “Kesempatan emas dalam mengukur peningkatan dan pemerataan pendidikan yang berkualitas bagi seluruh wilayah Indonesia melalui hadirnya SNT. KSP memiliki mandat langsung dalam memastikan program prioritas Presiden terealisasi tanpa hambatan, termasuk program SNT,” ucapnya.

Peran Aktif Pemda dan Guru

Dudung menekankan keberhasilan penetapan, pembangunan, dan penyelenggaraan SNT tidak hanya bergantung pada sinergi pemerintah pusat dan pemerintah daerah, namun juga membutuhkan komitmen seluruh pihak yang terlibat. Komitmen tersebut diperlukan guna memastikan setiap anak memperoleh hak yang sama dalam mendapatkan pendidikan yang bermutu.

Kepada para murid SNT, Dudung berpesan agar memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengembangkan diri, berani bermimpi, dan mempersiapkan masa depan dengan tetap mengedepankan pendidikan karakter. “Jadikanlah Sekolah Nasional Terintegrasi menjadi tempat untuk berkembang, bermimpi setinggi-tingginya, dan terus mengejar masa depan pendidikan karakter yang lebih baik,” kata Dudung.

Ia juga mengingatkan prestasi dan penguasaan ilmu pengetahuan perlu diimbangi dengan kejujuran serta karakter yang baik, agar para murid tumbuh menjadi generasi yang cerdas sekaligus memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan dan masyarakat.

Guru sebagai Garda Terdepan

Dudung menyampaikan apresiasi kepada kepala sekolah dan guru karena menjadi garda terdepan dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Ia berharap kepala sekolah dan guru dari SNT 7 Bogor serta 16 SNT lainnya dapat menjadi motor penggerak dan katalisator bagi perkembangan sekolah maupun masyarakat di sekitarnya.

Menurut Dudung, guru memiliki peran penting dalam mengenali potensi dan kekhususan setiap peserta didik sehingga proses pendidikan tidak berhenti pada penyampaian materi pembelajaran. “Ruang kelas bukan hanya tempat untuk proses belajar mengajar, penyampaian materi, tapi menjadi saksi bagaimana masa depan anak Indonesia ini mulai dibentuk,” katanya.

Program SNT ini diharapkan mampu menjawab tantangan pemerataan pendidikan di daerah-daerah terpencil, termasuk di Bengkulu, dengan menghadirkan fasilitas dan tenaga pendidik yang mumpuni. Dukungan penuh dari pemerintah provinsi dan kabupaten/kota menjadi kunci sukses pelaksanaan program prioritas nasional tersebut di daerah.

Reporter: Yusrizal Ahmad
Sumber: bengkulu.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top