BENGKULU — Setidaknya selama beberapa hari memakai Honor X6c sebagai perangkat harian, kesan pertama yang muncul bukan dari spek, melainkan dari rasa percaya diri memegang bodinya. Unit warna Moonlight White yang kami uji punya RAM 6 GB dan penyimpanan 256 GB — porsi storage yang cukup lapang untuk kelas menengah bawah.
Konteks pengujian perlu diluruskan: kami tidak melakukan uji laboratorium, hanya pemakaian normal dan beberapa kali simulasi jatuh. Tapi dari pengalaman itu, ada beberapa hal yang langsung terlihat.
Honor X6c tidak terlihat seperti ponsel rugged — bodinya tipis, 8,39 mm dengan bobot 199 gram. Namun di balik desain yang biasa tersebut, kami menjatuhkannya secara sengaja dari ketinggian 1 hingga 1,5 meter ke lantai keramik. Tidak hanya sekali, melainkan beberapa kali. Hasilnya, tidak ada kerusakan fisik berarti. Ponsel tetap menyala, layar utuh, dan semua fungsi berjalan normal.
Perlindungan IP64 juga bekerja sesuai klaim. Layar masih responsif saat terkena cipratan air, dan ponsel tetap normal dipakai di bawah gerimis. Tapi ingat, ini bukan IP68 — tidak aman direndam atau dibawa berenang. Untuk kehujanan, keringat, atau tumpahan kopi di meja, proteksinya cukup.
Bagian belakang memakai finishing glossy yang ternyata tidak licin dan tidak mudah meninggalkan sidik jari. Ini detail kecil yang jarang ada di ponsel 2 jutaan. Tanpa casing pun, bodi masih enak digenggam dan tidak cepat kotor.
Tombol fisik di sisi kiri ini bisa diprogram menjadi shortcut ke aplikasi atau fungsi tertentu. Saat tangan basah atau berkeringat, tombol ini sangat membantu karena tidak perlu bersusah payah menyentuh layar. Tekan lama juga bisa langsung memanggil Google Lens untuk pencarian visual.
Memang bukan fitur yang mengubah hidup, tapi implementasinya terasa lebih berguna dibanding tombol pintar di beberapa merek lain yang sering keliru dideteksi. Setidaknya untuk membuka kamera atau memulai skill tertentu, tombol ini selalu bekerja.
Ini titik terlemah Honor X6c. Panel TFT LCD 6,61 inci dengan resolusi 1.604 x 720 piksel. Di kertas, angka itu memang minim — banyak kompetitor di rentang yang sama sudah memakai IPS panel Full HD. Ketajaman teks dan kontrasnya jelas kurang jika dibandingkan langsung.
Namun dalam pemakaian sehari-hari, selama tidak membandingkan berdekatan, layar ini masih cukup nyaman. Kecerahan puncak 1.000 nits membuatnya tetap terbaca di bawah sinar matahari langsung. Bezel yang tipis memberikan kesan modern, dan refresh rate 120Hz membuat scroll media sosial terasa licin. Untuk konsumsi YouTube dan membaca artikel, ini masih lebih dari cukup.
Chipset MediaTek Helio G81 Ultra dengan RAM 6 GB menangani tugas harian — WhatsApp, Instagram, Chrome, dan streaming — tanpa drama. Beralih antar aplikasi tidak terasa lambat, meskipun kami belum sempat menekan ponsel dengan sesi gaming berat atau multitasking ekstrem.
Perlu diakui, artikel ini bukan pegangan untuk menilai performa puncak. Yang bisa kami pastikan dari pengalaman singkat: tidak ada pemanasan berlebih saat dipakai lama menonton, dan animasi 120Hz berjalan mulus. Jika kamu berharap bisa main game kompetitif dengan setting tinggi, lebih baik lihat kelas di atasnya.
Baterai 5.300 mAh adalah angka yang sama dengan ponsel menengah atas. Sayangnya, pengujian kami tidak mencakup pengukuran durasi pasti untuk screen-on time. Yang bisa kami sampaikan: dalam pemakaian campuran siang hari aktif, baterai masih tersisa nyaris separuh di malam hari. Dengan layar 120Hz aktif, ini tergolong awet untuk ukuran ponsel segini.
Charging cepat? Bahan resmi tidak menyebut watt pengisian, jadi kami tidak berani mengklaim kecepatan isi ulang. Pastikan cek buku manual atau situs resmi sebelum membeli.
Kamera utama 50 MP disebut di lembar spesifikasi, tapi kami tidak mendapatkan unit dengan waktu cukup untuk memotret berbagai kondisi. Oleh karena itu, kami tidak merekomendasikan membeli X6c semata-mata untuk fotografi. Kalau prioritasmu foto, ada opsi lain dengan kamera ultrawide atau makro yang lebih lengkap di kelas harga sama.
Kelebihan: - Bodi tahan banting, lolos uji jatuh dan IP64 untuk cipratan air - Baterai 5.300 mAh besar, cukup untuk satu hari pemakaian normal - Refresh rate 120Hz di harga 2 jutaan - Penyimpanan 256 GB lapang untuk kelas entry-level - AI Button mudah dikustomisasi
Kekurangan: - Resolusi layar hanya HD+ dengan panel TFT — kurang tajam dan kontras - Tidak ada kamera ultrawide atau mode makro yang disebut - Performa chipset hanya untuk tugas ringan, kurang cocok untuk gaming berat - Belum jelas dukungan pengisian cepat
Honor X6c paling cocok buat orang yang sering bekerja di luar ruangan, rentan menjatuhkan ponsel, atau butuh baterai besar untuk aktivitas harian. Dengan ketahanan fisik yang sudah kami buktikan sendiri, ponsel ini memberikan ketenangan pikiran yang tidak selalu didapat di harga 2 jutaan.
Namun jika kamu tipe pengguna yang peka terhadap ketajaman layar atau sering menonton video resolusi tinggi, kompromi HD+ akan terasa mengganggu. Dalam hal itu, ponsel lain dengan panel IPS FHD dan baterai serupa mungkin lebih menarik. X6c menang di ketahanan, kalah di tampilan. Pilihan ada di tanganmu.