BENGKULU — Fenomena ini bukan sekadar rumor. Data dari pasar mobil bekas sepanjang awal 2026 menunjukkan koreksi harga yang brutal untuk beberapa model kendaraan listrik populer. Hyundai Ioniq 5 yang pertama kali meluncur di Indonesia pada 2022 dengan harga Rp700 jutaan, kini di pasar sekunder hanya dihargai Rp420 juta hingga Rp500 juta. Angka itu tergantung pada jarak tempuh, kondisi fisik, dan yang paling krusial: kesehatan baterai atau State of Health (SoH).
Sementara itu, Wuling Air EV yang sempat menjadi primadona mobil listrik murah juga tak luput. Unit bekas produksi 2022-2023 kini banyak ditemukan di kisaran Rp100 juta hingga Rp150 juta. Padahal, harga barunya dulu menyentuh angka Rp200-300 jutaan. BYD Dolphin dan Hyundai Kona Electric generasi awal juga mengalami nasib serupa dengan penurunan yang tak kalah dalam.
Perang Harga Mobil Baru Pukul Telak Pasar Sekunder
Akar masalahnya terletak pada agresivitas pabrikan, terutama dari Tiongkok, yang terus menekan harga mobil listrik baru. Dalam dua tahun terakhir, konsumen dihadapkan pada banjir pilihan mobil listrik dengan spesifikasi lebih tinggi namun banderol yang semakin kompetitif.
Akibatnya, ketika harga mobil baru terus dipangkas lewat promo dan strategi pemasaran gencar, harga bekas otomatis ikut terseret. "Konsumen jadi punya bargaining power tinggi. Kenapa beli Ioniq 5 bekas Rp500 juta kalau ada mobil baru dari merek lain dengan fitur lebih canggih di harga yang sama?" ujar seorang pengamat pasar otomotif kepada Disway Malang.
Baterai Jadi Momok, Teknologi Cepat Usang
Faktor kedua adalah perkembangan teknologi baterai yang berjalan sangat cepat. Mobil listrik yang diluncurkan tiga tahun lalu kini langsung terasa tertinggal. Jarak tempuh yang lebih pendek, fitur keselamatan yang lebih sedikit, dan teknologi baterai yang kurang efisien membuat generasi awal EV cepat dianggap produk lama.
Berbeda dengan mobil bermesin konvensional yang siklus pembaruannya lambat, EV mengalami percepatan usang secara teknologi. Kekhawatiran pembeli terhadap biaya penggantian baterai yang mahal juga ikut menekan harga. Calon pembeli mobil listrik bekas kini sangat selektif dan kerap meminta data SoH sebelum transaksi.
Bagi yang berminat memiliki mobil listrik, kondisi ini jelas angin segar. Namun bagi pemilik lama, depresiasi ini menjadi pelajaran pahit bahwa resale value EV belum sekuat mobil bensin. Pasar sedang mengirim sinyal: jangan beli mobil listrik dengan ekspektasi nilai jual tinggi dalam tiga tahun.