BENGKULU — Otoritas antimonopoli Inggris (CMA) mengusulkan aturan yang memaksa Apple membuka akses teknologi contactless NFC di iPhone bagi pesaing fintech, dengan biaya akses yang jauh lebih rendah. Proposal ini muncul setelah CMA menetapkan Apple sebagai pihak dominan di ekosistem seluler dan menyoroti mahalnya biaya serta pembatasan akses nirkontak. Regulator menilai aturan tersebut berisiko menghambat inovasi dompet digital lokal.
Competition and Markets Authority (CMA) menilai biaya dan syarat akses yang dikenakan Apple terhadap teknologi near field communication (NFC) membatasi ruang gerak perusahaan fintech untuk berinovasi. Teknologi nirkontak itu menjadi pintu masuk utama bagi layanan pembayaran digital di iPhone.
Usulan regulator tersebut bertujuan memudahkan para pesaing mengakses teknologi contactless Apple dengan biaya yang jauh lebih rendah. Proposal ini merupakan bagian dari penyelidikan CMA setelah lembaga itu menetapkan Apple sebagai pihak yang dominan di sektor ekosistem seluler.
Mengapa CMA Menyoroti NFC iPhone
CMA menyoroti biaya tinggi dan pembatasan yang dikenakan kepada perusahaan-perusahaan yang ingin mengakses teknologi nirkontak iPhone. Regulator menilai kondisi itu menutup peluang pesaing membangun layanan pembayaran sendiri di perangkat Apple.
Dalam pernyataannya, CMA menegaskan pentingnya sektor fintech bagi perekonomian Inggris. Regulator menilai aturan akses Apple berisiko menahan laju inovasi dan ekspansi perusahaan-perusahaan tersebut.
"Perusahaan fintech merupakan kisah sukses Inggris, namun biaya dan aturan akses Apple terhadap teknologi nirkontak seluler utama, yang dikenal sebagai near field communication (NFC), berisiko menghambat kemampuan mereka untuk berinovasi dan berkembang," kata CMA dalam pernyataan.
Pasar Dompet Digital Inggris Tertinggal
CMA membandingkan kondisi pasar Inggris dengan Uni Eropa. Menurut regulator, tidak ada satu pun perusahaan yang meluncurkan produk dompet digital untuk bersaing dengan Apple di Inggris.
"Berbeda dengan di Uni Eropa, tidak ada satu pun perusahaan yang meluncurkan produk dompet digital untuk bersaing dengan Apple di Inggris," demikian pernyataan CMA.
Perbedaan itu menjadi sorotan karena Apple sudah membuka akses NFC di kawasan Uni Eropa menyusul tekanan regulasi setempat. Inggris kini berada di posisi berbeda lantaran belum ada kewajiban serupa.
Apa Dampaknya bagi Pengguna iPhone
Jika usulan CMA diberlakukan, pengguna iPhone di Inggris berpotensi mendapat lebih banyak pilihan aplikasi dompet digital selain layanan bawaan Apple. Pilihan itu bergantung pada respons perusahaan fintech yang selama ini terganjal biaya akses.
Bagi pelaku fintech, aturan baru dapat menurunkan biaya masuk ke ekosistem pembayaran iPhone. Dampaknya terasa pada ruang inovasi produk, mulai dari dompet digital hingga layanan pembayaran berbasis NFC.
Apple belum memberikan tanggapan yang dirangkum dalam pemberitaan ini. Usulan CMA masih berstatus proposal dan belum menjadi kewajiban hukum yang berlaku.
Posisi dalam Tren Regulasi Global
Langkah CMA memperpanjang tekanan regulator terhadap praktik Apple dalam mengelola ekosistem iPhone. Uni Eropa lebih dulu mendorong keterbukaan NFC lewat kerangka regulasi pasar digitalnya.
Bagi pasar Indonesia, dinamika ini menjadi rujukan soal seberapa jauh kontrol platform atas teknologi pembayaran di smartphone. Otoritas persaingan di berbagai negara makin sering meninjau akses fitur perangkat sebagai isu antimonopoli.
CMA akan menempuh tahap konsultasi sebelum memutuskan bentuk akhir aturan. Keputusan itu menentukan apakah fintech Inggris bisa merilis dompet digital yang bersaing langsung dengan Apple di perangkat iPhone.