Harga Sawit Warga Seluma Bakal Terdongkrak, Investor Siap Bangun Pabrik CPO 45 Ton Per Jam di Masmambang

Penulis: Syahrul Karim  •  Kamis, 03 September 2026 | 19:57:31 WIB
Investor PT Bukit Palma Prima membebaskan lahan 45 hektare untuk pembangunan pabrik CPO di Kelurahan Masmambang, Kecamatan Talo.

SELUMA — Rencana pembangunan pabrik pengolahan kelapa sawit di Kabupaten Seluma akhirnya menemui titik terang. PT Bukit Palma Prima (BPP) dikabarkan telah menuntaskan sejumlah persyaratan utama untuk merealisasikan investasi senilai puluhan miliar rupiah di Kelurahan Masmambang, Kecamatan Talo.

Kabar ini tentu menjadi angin segar bagi ribuan petani sawit di kawasan tersebut yang selama ini kerap mengeluhkan harga Tandan Buah Segar (TBS) yang fluktuatif. Dengan adanya pabrik baru, jarak tempuh pengiriman hasil kebun menjadi lebih pendek dan harga jual di tingkat petani diharapkan lebih kompetitif.

Investor Sudah Bebaskan Lahan 45 Hektare

Komitmen PT BPP bukan sekadar wacana. Plt. Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPPTSP) Kabupaten Seluma, Mulyadi, membenarkan bahwa perusahaan telah membuktikan keseriusannya dengan membebaskan lahan seluas 45 hektare milik masyarakat setempat.

"PT BPP atau Bukit Palma Prima yang berinvestasi di Kelurahan Masmambang, Kecamatan Talo, betul-betul serius. Proses izin lokasi atau KKPR-nya sudah selesai, kemudian tahap AMDAL pun sudah beres. Minggu ini sudah memasuki tahap izin SKKL (Surat Keputusan Kelayakan Lingkungan)," jelas Mulyadi, Jumat (7/2/2024).

Langkah pembebasan lahan menjadi bukti nyata bahwa perusahaan tidak main-main dalam menanamkan modalnya di Bumi Serunai.

Proses Perizinan Hampir Tuntas, Kapan Groundbreaking?

Saat ini, proses perizinan yang tersisa tinggal menunggu penerbitan SKKL. Setelah itu, kewenangan penerbitan Surat Izin Usaha Industri (IUI) berada di tangan Pemerintah Kabupaten Seluma atau Pemerintah Provinsi Bengkulu.

"Setelah izin industri terbit, mereka baru melakukan land clearing (pembukaan lahan), lalu masuk ke tahap berikutnya yaitu Pembuatan Blok dan Infrastruktur (PBI). Proses konstruksi awal ini diperkirakan memakan waktu sekitar satu tahun," tambah Mulyadi.

Jika semua tahapan berjalan lancar, bukan tidak mungkin pabrik dengan teknologi pengolahan modern ini akan mulai beroperasi dalam dua tahun ke depan. Keberadaan pabrik ini diproyeksikan mampu menyerap hasil panen sawit dari Kecamatan Talo dan wilayah sekitarnya.

Target: Serap Tenaga Kerja Lokal dan Pacu Ekonomi

Kehadiran pabrik CPO di Masmambang tidak hanya berdampak pada harga TBS. Masyarakat setempat juga berpeluang besar mendapatkan pekerjaan, baik di tahap konstruksi maupun saat pabrik sudah beroperasi nanti.

Mulyadi menyebutkan bahwa dalam proses pembangunan nanti, perusahaan diwajibkan untuk memprioritaskan tenaga kerja dari warga sekitar. Hal ini sesuai dengan regulasi yang berlaku untuk investasi di daerah.

Selain itu, efek berganda (multiplier effect) dari beroperasinya sebuah industri besar akan dirasakan oleh sektor usaha mikro dan kecil di sekitarnya. Mulai dari usaha transportasi, kuliner, hingga jasa lainnya dipastikan ikut tumbuh.

"Kehadiran investor ini kita sambut baik. Selain mendongkrak ekonomi, ini juga akan memangkas rantai distribusi TBS yang selama ini seringkali merugikan petani," pungkas Mulyadi.

Dengan rampungnya proses perizinan dan pembangunan pabrik, Seluma bersiap memasuki era baru sebagai salah satu sentra industri kelapa sawit di Provinsi Bengkulu.

Reporter: Syahrul Karim
Sumber: rbtv.disway.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top