BENGKULUTIME.COM — Provinsi Bengkulu masuk dalam wilayah lintasan sebaran abu vulkanik letusan Gunung Anak Krakatau pada lapisan udara hingga ketinggian 50.000 kaki. Pemerintah daerah setempat diminta berkoordinasi intensif dengan BPBD guna menyiapkan langkah mitigasi dampak kesehatan masyarakat akibat paparan abu. Warga diimbau mulai membatasi aktivitas di luar ruangan serta mengenakan masker demi mencegah gangguan pernapasan.
Berdasarkan analisis citra satelit Himawari-9 milik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pukul 02.00 WIB, paparan abu vulkanik kini mencakup enam provinsi. Sebaran material letusan ini terbagi ke dalam dua lapisan ketinggian yang berbeda arah dan dampaknya.
Lapisan pertama bergerak dari permukaan tanah hingga ketinggian 20.000 kaki mengarah ke Tenggara-Selatan, melingkupi sebagian wilayah Banten dan Jawa Barat. Sementara itu, lapisan kedua membubung dari permukaan hingga ketinggian 50.000 kaki.
Pada lapisan 50.000 kaki inilah abu vulkanik terdeteksi melintasi Bengkulu, Lampung, Banten, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, area selatan Selat Sunda, hingga membentang ke Samudra Hindia. Ketinggian ini merupakan jalur krusial navigasi penerbangan internasional.
Kondisi tersebut membuat otoritas penerbangan nasional langsung menjalin koordinasi intensif bersama Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC) Darwin Australia guna memantau keselamatan rute udara.
Menyikapi sebaran material abu yang melintas di ruang udara Bengkulu dan lima provinsi lainnya, pemerintah daerah diminta bergerak cepat memperkuat mitigasi kewilayahan. Koordinasi bersama BPBD menjadi prioritas utama guna mengantisipasi gangguan kesehatan warga.
Masyarakat di daerah terdampak sebaran abu diimbau untuk mengenakan masker saat beraktivitas serta membatasi kegiatan di luar ruangan jika tidak mendesak. Paparan partikel abu vulkanik berisiko mengganggu saluran pernapasan bila terhirup langsung.
Terkait ancaman aktivitas vulkanik ini, Badan Geologi Kementerian ESDM merilis peringatan resmi:
"Meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bahaya awan panas, lava, dan lontaran batu pijar, serta hujan abu lebat."
Dampak langsung erupsi gunung api di Selat Sunda ini telah memicu gangguan operasional transportasi udara. Tercatat sebanyak 3 penerbangan di Lampung dibatalkan demi menghindari kerusakan mesin pesawat, menyusul penutupan sementara Bandara Soekarno-Hatta yang sempat dilakukan pada dini hari yang sama.
MAGMA Indonesia melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan bahwa letusan kembali terjadi pada Minggu pukul 03.53 WIB. Laporan petugas pengamat Rioboniek Situmorang mencatat tinggi kolom abu belum dapat diamati karena proses erupsi masih berlangsung saat data disusun.
Tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau hingga kini bertahan pada Status Level III (Siaga) sejak 2 Juli 2026, dengan catatan lebih dari 240 kali letusan selama periode siaga tersebut. PVMBG secara tegas melarang masyarakat, wisatawan, dan pendaki mendekati area kawah aktif dalam radius aman 3 kilometer, sementara risiko tsunami dipastikan sangat kecil hingga nyaris nihil.