BENGKULU — Samsung Galaxy Watch Ultra2 membawa pemantauan Vitals lima indikator biometrik dan baterai 800 mAh untuk memantau pemulihan tubuh saat tidur. Jam pintar 47mm ini dijual Rp10.499.000, bersaing dengan Apple Watch Ultra 2 dan Garmin di segmen smartwatch premium untuk pengguna yang serius soal data kesehatan.
Ulasan ini disusun dari materi peluncuran Samsung Indonesia di Jakarta, termasuk sesi penjelasan medis bersama dr. Gia Pratama dan pengalaman aktor Maxime Bouttier sebagai pengguna. Karena belum ada unit uji yang kami pakai sendiri dalam jangka panjang, sejumlah klaim performa di bawah ini kami tandai sebagai data dari pabrikan, bukan hasil pengukuran independen.
Fitur Vitals menjadi nilai jual utama Galaxy Watch Ultra2. Sensor Samsung BioActive Sensor merekam lima parameter sekaligus selama tidur, bukan cuma satu atau dua seperti kebanyakan smartwatch di kelas harganya.
Satu catatan penting: Vitals butuh pemantauan tidur minimal tujuh malam berturut-turut sebelum baseline personal terbentuk. Artinya, pengguna tidak bisa langsung menilai akurasi fitur ini di malam pertama pemakaian.
Data mentah dari sensor diolah Samsung Health dan antarmuka One UI 9 Watch menjadi tiga skor yang lebih mudah dicerna pengguna awam.
Heart Health Score menghitung kondisi jantung dari durasi tidur, indeks massa tubuh, aktivitas fisik, dan beban vaskular. Sleep Score menilai kualitas tidur lewat total durasi, efisiensi, serta tahapan light, deep, dan REM. Sementara Energy Score menunjukkan kesiapan stamina harian dari akumulasi aktivitas dan pemulihan malam.
"Melalui Vitals dan Heart Health Score di One UI 9 Watch, Galaxy Watch Ultra2 membantu mengubah data tersebut menjadi insight yang lebih mudah dipahami," kata Tipe Sultan, MX Product Marketing Manager Samsung Electronics Indonesia.
Maxime Bouttier membagikan hasil pemakaiannya: Heart Health Score 79, Sleep Score 67 dengan durasi deep sleep satu jam, dan Energy Score 74. Dari data itu, ia mengaku menemukan masalah utamanya bukan durasi, melainkan konsistensi jadwal tidur.
dr. Gia Pratama menegaskan skor harian ini berfungsi sebagai penanda pola gaya hidup, bukan alat