BENGKULU — Inter Milan membalikkan keadaan menjadi kemenangan 2-1 atas Fiorentina lewat dua gol di masa injury time pada laga pekan kedelapan Serie A di Stadion Giuseppe Meazza. Hasil itu menjadi comeback kelima Nerazzurri dalam delapan pertandingan, sekaligus mengantar mereka ke puncak klasemen dengan 23 gol—terbanyak di kompetisi.
Kemenangan dramatis atas Fiorentina menambah panjang daftar pertandingan yang harus dilalui Inter dengan cara sulit. Tim asuhan Cristian Chivu itu sudah lima kali tertinggal lebih dulu, tetapi selalu mampu mengubah situasi menjadi hasil positif.
Dua gol di masa injury time memastikan tiga poin tetap tinggal di Giuseppe Meazza. Catatan ini mempertegas satu hal: Inter punya daya juang hingga peluit akhir, tetapi juga kerap membiarkan lawan mencetak gol lebih dulu.
Fiorentina bukan lawan pertama yang membuat Inter harus mengejar ketertinggalan. Sebelumnya, Napoli sudah lebih dulu merasakan bagaimana Nerazzurri bangkit dari posisi tertinggal dua gol untuk menang 3-2.
Pola serupa terulang saat menghadapi Udinese. Dari posisi 0-2, Inter membalikkan keadaan dan menutup laga dengan skor 5-3.
Menghadapi AS Roma, Inter sempat tertinggal dua gol sebelum Lautaro Martinez mencetak dua gol penyelamat. Laga itu berakhir 2-2, dan Inter tetap membawa pulang satu poin.
Comeback keempat terjadi melawan Bologna. Setelah tertinggal lebih dulu lewat gol Tommaso Pobega, Nerazzurri bangkit dan menang 3-1. Kemenangan atas Fiorentina melengkapi catatan menjadi lima comeback dalam delapan pertandingan.
Dari situasi tertinggal itu, Inter mengumpulkan total 13 poin. Jumlah tersebut menunjukkan betapa besar kontribusi kebangkitan terhadap posisi mereka di puncak klasemen.
Produktivitas lini depan menjadi alasan utama Inter tetap meraih hasil positif meski beberapa kali berada dalam situasi sulit. Hingga pekan kedelapan, mereka telah mencetak 23 gol di Serie A, jumlah terbanyak dibandingkan tim lain di kompetisi tersebut.
Ketajaman itu memberi Inter ruang untuk memperbaiki kesalahan. Namun, kebiasaan tertinggal lebih dulu menyimpan risiko besar ketika lawan lebih efektif memanfaatkan peluang.
Dua hal itu bisa berjalan beriringan. Inter memiliki daya juang untuk terus menekan hingga akhir pertandingan, tetapi pertahanan yang belum cukup solid berpotensi menjadi masalah saat menghadapi tim dengan efisiensi tinggi.
Mentalitas juara memang terlihat dari cara Inter menolak menyerah. Namun, mempertahankan gelar Serie A 2026/2027 akan menuntut lebih dari sekadar semangat bangkit.
Jika terus bermain dengan pola yang sama, Inter berisiko kehilangan poin di laga-laga yang seharusnya bisa dikendalikan sejak awal. Soliditas pertahanan menjadi pekerjaan rumah utama bagi Chivu.
Comeback melawan Napoli, Udinese, AS Roma, Bologna, dan Fiorentina menjadi modal berharga. Pertanyaannya kini: apakah Inter bisa menutup celah di lini belakang sebelum kebiasaan tertinggal lebih dulu berbuah hasil sebaliknya.