Pencarian

Bobot Indonesia di Indeks MSCI Anjlok ke 0,3%, Dino Patti Djalal Usul Satgas Khusus

Minggu, 25 Oktober 2026 • 08:20:01 WIB
Bobot Indonesia di Indeks MSCI Anjlok ke 0,3%, Dino Patti Djalal Usul Satgas Khusus
Bobot saham Indonesia dalam indeks MSCI turun menjadi sekitar 0,3% dari sebelumnya 2,6%.

BENGKULU — Bobot saham Indonesia dalam indeks MSCI merosot menjadi sekitar 0,3% dari sebelumnya 2,6%, memicu kekhawatiran turunnya status pasar modal RI dari emerging market ke standalone market. Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal mengusulkan pembentukan satuan tugas khusus dan diskusi tertutup dengan MSCI agar skor Indonesia kembali membaik pada Juni 2027.

Dino menilai ancaman penurunan status tersebut bukan soal konspirasi atau agenda politik, melainkan hasil penilaian profesional MSCI yang menerapkan kriteria sama bagi semua negara. Ia menyampaikan pandangan itu melalui unggahan resmi di akun Instagram @dinopattidjalal, Sabtu (24/11/2026).

Posisi Indonesia jauh tertinggal dari sejumlah negara lain dalam indeks yang menjadi acuan utama investor global tersebut. China memegang bobot sekitar 20%, Korea Selatan 18%, India 11%, Brazil 4,8%, Afrika Selatan 3%, Meksiko 1,7%, dan Uni Emirat Arab 1,27%.

MSCI Bukan Lawan yang Harus Dikalahkan

Menurut Dino, MSCI adalah organisasi non-pemerintah yang netral dan independen, berbeda dari lembaga internasional seperti IMF yang dinilainya punya agenda ekonomi tertentu dan bisa dipengaruhi kepentingan politik.

"MSCI bukan IMF, lembaga internasional yang dulu mempunyai agenda ekonomi tertentu dan bisa dipengaruhi kepentingan politik pemerintah tertentu, dan sering juga menimbulkan protes amarah rakyat. MSCI itu organisasi non-pemerintah yang netral, independen, dan tidak berkepentingan. Dan karena itu MSCI menjadi acuan utama bagi para investor global," ungkap Dino.

Ia menegaskan persoalan ini tidak semestinya dipandang sebagai ajang adu kekuatan atau nasionalisme. Sikap konfrontatif terhadap MSCI justru berisiko merusak kepercayaan investor global terhadap pasar modal Indonesia.

"Tidak ada konspirasi, hanya ada penilaian yang profesional dan merata kriterianya bagi semua," jelasnya.

Belajar dari China dan Yunani

Dino merujuk pengalaman China yang sempat ditolak MSCI selama tiga tahun berturut-turut sebelum akhirnya masuk kategori pasar emerging market pada 2018. China merespons penolakan itu dengan terbuka dan menyesuaikan diri terhadap standar MSCI.

"Tiongkok merespon dengan terbuka, menyesuaikan dengan standar MSCI tanpa memaki-maki atau defensive. Dan kemudian mereka berhasil masuk di tahun 2018, naik kelas. Begitu juga dengan Yunani yang kastanya sempat diturunkan di tahun 2013 dan sekarang dinyatakan akan naik kelas lagi," terang Dino.

Yunani menjadi contoh bahwa penurunan status bukan akhir segalanya. Negara itu sempat turun kasta pada 2013, lalu berhasil kembali ke kategori yang lebih tinggi setelah membenahi diri.

Diskusi Tertutup dan Target Skor Juni 2027

Dino mengusulkan diskusi intensif dan tertutup dengan MSCI, dengan target skor Indonesia kembali membaik pada Juni 2027. Skor Indonesia diharapkan meningkat hingga mendekati 1%, setara Malaysia yang memiliki skor 0,92% dan Thailand 0,97%, bahkan mendekati 2%.

Ia juga mengusulkan pembentukan satuan tugas khusus yang melibatkan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Menteri Keuangan, Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Kebijakan satu pintu dinilai perlu diterapkan dalam menyampaikan pernyataan terkait MSCI. Hanya pejabat yang ditunjuk, seperti Ketua OJK, Menteri Keuangan, atau pimpinan BEI, yang boleh menyampaikan keterangan resmi mengenai isu tersebut.

Dino mengingatkan investor global memiliki aturan internal yang membatasi investasi pada pasar berstatus standalone. Indonesia, menurutnya, akan sulit menentang kredibilitas MSCI.

"Terapkan disiplin dan kepekaan yang tinggi terhadap sentimen pasar dalam transaksi saham. Jangan korbankan kepentingan sistemik jangka panjang hanya untuk kepentingan transaksional sesaat. Justru jadikan momentum ini sebagai peluang Indonesia untuk membenahi sistem dari dalam, memulihkan kepercayaan investor global, dan membuat pasar modal kita lebih atraktif," pungkas Dino.

Follow bengkulutime.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: finance.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks