Apple dilaporkan tengah menjajaki pembicaraan awal dengan Intel dan mengevaluasi fasilitas Samsung Electronics untuk memproduksi chipset perangkat mereka. Langkah strategis ini diambil guna mengurangi ketergantungan tunggal pada TSMC di tengah ketidakpastian geopolitik dan lonjakan permintaan chip AI. Jika terealisasi, kemitraan ini akan menandai pergeseran besar dalam peta rantai pasok teknologi global.
Selama lebih dari satu dekade, Apple menggantungkan nasib performa iPhone, iPad, hingga lini Mac pada satu mitra manufaktur utama: Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. (TSMC). Namun, laporan terbaru dari Bloomberg mengungkapkan bahwa raksasa Cupertino tersebut mulai serius mencari alternatif. Apple kini tengah menjajaki diskusi tahap awal dengan Intel dan mengevaluasi pabrik Samsung Electronics di Texas, Amerika Serikat, untuk mendiversifikasi produksi system-on-a-chip (SoC) mereka.
Langkah pencarian mitra baru ini bertepatan dengan reorganisasi internal besar-besaran di tubuh Apple. Perusahaan baru saja menggabungkan tim rekayasa perangkat keras (hardware engineering) dan teknologi perangkat keras di bawah satu komando yang dipimpin oleh Johny Srouji. Kini, Srouji menjabat sebagai Chief Hardware Officer Apple dengan tanggung jawab yang lebih luas.
Dalam struktur baru tersebut, divisi perangkat keras dipecah menjadi lima area utama. Salah satu yang paling krusial adalah divisi Silicon yang kini diawasi oleh Sri Santhanam, veteran Apple yang telah mengabdi selama 18 tahun. Fokus tim ini sangat jelas: memastikan keberlanjutan desain chip mandiri Apple sekaligus mencari cara agar produksinya tidak hanya bertumpu pada satu titik geografis.
Meski Apple memiliki keinginan kuat untuk pindah atau setidaknya berbagi jatah produksi, realita di lapangan tidaklah sederhana. TSMC saat ini merupakan satu-satunya manufaktur yang mampu menawarkan skala produksi masif dengan konsistensi kualitas yang sangat tinggi. Apple adalah pelanggan terbesar TSMC untuk node fabrikasi 3-nanometer tercanggih saat ini.
Intel dan Samsung menghadapi tantangan besar jika ingin merebut hati Apple. Laporan tersebut mencatat bahwa kedua perusahaan tersebut belum mampu menawarkan tingkat keandalan dan kapasitas produksi yang setara dengan TSMC. Apple dikabarkan masih memiliki keraguan besar mengenai penggunaan teknologi non-TSMC dan ada kemungkinan pembicaraan ini tidak berlanjut ke tahap pesanan produksi jika standar mereka tidak terpenuhi.
Ada dua faktor utama yang mendorong Apple mempercepat evaluasi terhadap Intel dan Samsung:
Bagi Intel, mendapatkan Apple sebagai pelanggan foundry akan menjadi validasi besar bagi ambisi mereka di bawah inisiatif baru. Ini juga akan menghidupkan kembali kemitraan yang sempat terputus sejak Apple beralih dari prosesor Intel ke Apple Silicon pada 2020. Terlebih lagi, pemerintah Amerika Serikat kini memegang saham ekuitas di Intel, yang sejalan dengan ambisi Apple membawa manufaktur canggih kembali ke tanah AS.
Samsung Electronics juga berdiri sebagai kandidat kuat. Meskipun saat ini Samsung masih tertinggal dari TSMC di pasar foundry chip canggih, fasilitas mereka di Texas yang dipersiapkan untuk memproduksi chip mutakhir bisa menjadi nilai tawar tinggi. Jika Apple akhirnya memberikan kontrak kepada Samsung, ini akan memberikan dorongan signifikan bagi reputasi divisi semikonduktor perusahaan asal Korea Selatan tersebut.
Diskusi ini memang masih berada di tahap awal dan belum ada komitmen resmi yang ditandatangani. Namun, sinyal yang dikirimkan Apple sangat jelas: ketergantungan mutlak pada satu vendor bukan lagi strategi yang aman di era ketidakpastian global saat ini. Bagi konsumen, langkah diversifikasi ini diharapkan mampu menjaga stabilitas pasokan perangkat Apple di masa depan, meskipun tantangan teknis dalam menyamakan kualitas produksi antar-pabrik tetap menjadi rintangan terbesar.