BENGKULU — Sampah organik yang selama ini berakhir begitu saja di TPA, kini mulai diintervensi dari hulu. DLH Kota Bengkulu resmi menerapkan program pengolahan sampah organik dengan metode komposter, yang diawali dari internal instansi mereka sendiri.
Kepala DLH Kota Bengkulu, Anshar Amin, menegaskan bahwa persoalan sampah tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah sendirian. Butuh gerakan kolektif yang dimulai dari unit terkecil: rumah tangga.
Dalam program ini, setiap ASN di lingkungan DLH diwajibkan memilah sampah organik dari rumah masing-masing. Sampah tersebut kemudian dibawa ke kantor setiap pekan untuk diolah menggunakan komposter yang sudah disiapkan.
"Kita memulai gerakan memilah sampah dimulai dari kantor kita sendiri. Persoalan sampah ini persoalan bersama, maka semua orang harus ikut terlibat dalam pengelolaannya," ujar Anshar Amin, Kamis (21/5/2026).
Metode yang digunakan terbilang sederhana. Komposter berbahan dasar ember induk dipakai untuk mengolah sampah organik rumah tangga menjadi pupuk kompos yang bisa dimanfaatkan untuk tanaman.
Selama ini, sebagian besar sampah dari rumah tangga di Kota Bengkulu langsung dibuang ke TPA tanpa melalui proses pemilahan. Akibatnya, volume sampah terus menumpuk dan mempercepat masa pakai TPA.
Dengan pemilahan sejak dari rumah, sampah organik tidak lagi menjadi beban TPA. Sampah jenis ini bisa diolah menjadi kompos yang punya nilai guna. Sementara itu, sampah anorganik—seperti plastik dan kertas—dapat dipisahkan dan disetorkan ke bank sampah untuk memiliki nilai ekonomi.
Anshar optimistis, kebiasaan sederhana ini bisa menjadi budaya baru di lingkungan pemerintahan, dan kemudian ditularkan ke masyarakat luas.
Ada tiga sasaran utama dari program ini: mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA, menciptakan pupuk kompos yang bisa digunakan untuk penghijauan kota, dan membangun kesadaran bahwa pengelolaan sampah dimulai dari diri sendiri.
DLH Kota Bengkulu berencana memperluas program ini ke instansi pemerintah lainnya dan kelurahan-kelurahan di kota tersebut. Jika berjalan mulus, bukan tidak mungkin kebijakan ini akan menjadi model bagi daerah lain di Provinsi Bengkulu.