BENGKULU — Pimpinan Kanwil Bulog Maluku dan Maluku Utara, Rudy Senawi Tahir, mengungkapkan hasil monitoring di sentra produksi padi menunjukkan satu masalah klasik yang masih membelenggu petani. "Penggunaan mesin pascapanen yang relatif sederhana memperlambat proses pengolahan gabah menjadi beras di tingkat penggilingan," katanya di Ambon, Minggu.
Keterbatasan alat ini tidak hanya membuat proses produksi lambat, tetapi juga berpotensi menggerus keuntungan petani. Menurut Rudy, efisiensi yang rendah otomatis memengaruhi nilai tambah yang seharusnya bisa dinikmati lebih besar oleh para petani.
Bulog menilai sudah saatnya infrastruktur pertanian di Maluku mendapat suntikan teknologi yang lebih modern. Harapannya, dengan alat dan mesin pertanian yang lebih canggih, proses pengolahan hasil panen bisa berlangsung lebih cepat dan efisien.
"Dengan begitu, hasil panen petani dapat lebih optimal terserap dan memiliki nilai tambah yang lebih baik," ujar Rudy. Peningkatan teknologi pascapanen ini menjadi kebutuhan mendesak untuk mendukung produktivitas sektor pertanian di wilayah kepulauan tersebut.
Di tengah upaya perbaikan teknologi, Bulog memastikan penyerapan hasil panen petani terus berjalan. Hingga Juni 2026, realisasi penyerapan setara beras di Maluku dan Maluku Utara telah mencapai hampir 70 persen dari target tahunan sebesar 5.000 ton.
Capaian ini menjadi sinyal positif bahwa potensi produksi pangan daerah cukup baik. Namun, Rudy menekankan bahwa angka ini harus dibarengi dengan penguatan infrastruktur dan teknologi pascapanen agar produktivitas petani bisa terus meningkat secara berkelanjutan.
Dorongan modernisasi ini menjadi bagian dari strategi Bulog untuk mendukung program swasembada pangan nasional, memastikan beras yang dihasilkan petani Maluku bisa bersaing dan terserap maksimal oleh pasar.