BENGKULU — Gelombang ketidakstabilan politik dan ekonomi dunia mendorong mahasiswa di Bengkulu untuk mengambil sikap. Mereka menegaskan pentingnya nasionalisme dan daya kritis di kalangan generasi muda sebagai benteng menghadapi tekanan geopolitik global.
Para aktivis kampus menilai bahwa konflik bersenjata di sejumlah kawasan, perang dagang, serta politik blok kekuatan besar mulai berdampak pada harga komoditas dan nilai tukar rupiah. Kondisi ini, menurut mereka, membutuhkan kesadaran kolektif agar Indonesia tidak terseret dalam pusaran kepentingan asing.
“Mahasiswa harus menjadi garda terdepan dalam mengawal kebijakan negara. Jangan sampai kita hanya menjadi penonton di negeri sendiri,” ujar Koordinator aksi dalam orasinya di Bundaran Simpang Lima, Kota Bengkulu, akhir pekan lalu.
Alih-alih sekadar melakukan demonstrasi, mahasiswa Bengkulu memilih untuk memperkuat diskursus intelektual. Mereka menggelar diskusi publik dan forum kajian yang membahas strategi menghadapi tekanan eksternal, mulai dari ketahanan pangan hingga kemandirian energi.
Mereka menekankan bahwa nasionalisme bukan sekadar simbol, melainkan aksi nyata dalam mencintai produk dalam negeri dan mengawasi kebijakan pemerintah. “Kritis terhadap kebijakan yang merugikan rakyat adalah bentuk nasionalisme sejati,” tambahnya.
Para mahasiswa mencatat beberapa dampak nyata yang sudah mulai terasa di Bengkulu akibat gejolak dunia:
Dalam aksi damai yang dihadiri perwakilan dari Universitas Bengkulu, IAIN Bengkulu, dan sejumlah politeknik, mahasiswa membagikan selebaran berisi ajakan untuk memperkuat persatuan. Mereka memperingatkan agar masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh informasi palsu yang sengaja disebar untuk memecah belah bangsa.
“Kedaulatan negara tidak hanya dijaga oleh TNI dan Polri, tapi juga oleh kesadaran kita semua. Jangan sampai kita menjadi budak informasi dan kepentingan asing,” tegas koordinator aksi.