BENGKULU — Turnamen dua tahunan antarnegara Asia Tenggara itu dijadwalkan bergulir pada 24 Juli hingga 26 Agustus 2026. Optimisme federasi muncul setelah mengevaluasi progres skuad Garuda dalam dua tahun terakhir, terutama pasca-perombakan di kursi pelatih.
Sumardji menjelaskan tim kepelatihan di bawah John Herdman kini tidak hanya fokus pada taktik. Ada penekanan khusus pada pembentukan karakter pemain agar tidak gentar menghadapi tekanan.
"Kami menyiapkan keseimbangan antara mental, fisik, dan taktis. Ini hasil evaluasi panjang yang kami yakini akan menjadi kekuatan dahsyat," ujar Sumardji dalam forum Water Break PSSI Pers di Jakarta, Jumat (3/7).
Federasi juga menilai komposisi pemain kini lebih solid. Kehadiran pemain diaspora yang pulang ke tanah air memperkuat kualitas kompetisi domestik. Dukungan penuh dari PSSI akan difokuskan pada kebutuhan teknis tim pelatih.
Langkah Indonesia di fase grup dipastikan tidak ringan. Vietnam, yang kerap menjadi batu sandungan, sudah dipetakan kekuatannya oleh BTN. Sumardji secara blak-blakan menyinggung gaya bermain lawan yang dinilai kerap menggunakan cara non-teknis.
"Saya jujur saja, kalau lawan Vietnam itu sudah khatam-lah. Seperti tadi Cahya sampaikan, segala cara dilakukan. Ingat, ya! Kali ini kita akan balas itu semua," tegas Sumardji.
Pernyataan ini sekaligus menjadi sinyal bahwa Indonesia tidak hanya datang untuk berpartisipasi. Ada misi balas dendam atas kekalahan di edisi-edisi sebelumnya yang masih membekas.
Di luar persiapan teknis, BTN berharap stadion penuh di setiap laga. Kehadiran langsung suporter dinilai krusial untuk memotivasi pemain tampil habis-habisan.
"Kami berharap para suporter bisa memadati stadion. Mereka adalah pemain ke-12 yang kami butuhkan untuk membakar semangat skuad Garuda," kata Sumardji.
Target ini sekaligus menjadi ujian bagi konsistensi performa timnas. Dalam beberapa tahun terakhir, skuad Garuda menunjukkan peningkatan, namun belum berbuah gelar di level regional.