BENGKULU — Spekulasi soal perilaku di luar lapangan mulai berhembus setelah kekalahan Senegal di fase grup. FSF menegaskan tidak ada pelanggaran protap atau etika yang dilakukan oleh skuad maupun ofisial selama turnamen berlangsung.
Kabar miring tersebut pertama kali beredar di media sosial dan grup diskusi penggemar. Banyak yang mengaitkan kekalahan tim dengan dugaan aktivitas tidak terprogram di luar jadwal pertandingan.
FSF langsung bergerak cepat. Dalam pernyataan resmi yang dirilis Selasa (30/6), federasi menyebut tuduhan itu tidak berdasar dan hanya spekulasi liar yang merugikan nama baik tim.
“Kami menyayangkan beredarnya informasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan,” tulis FSF dalam rilis yang diterima media. “Seluruh delegasi Senegal menjalani turnamen dengan disiplin tinggi dan mengikuti semua protokol yang ditetapkan FIFA.”
Pernyataan itu menegaskan tidak ada pesta atau kegiatan serupa yang melibatkan pemain atau staf selama berada di Qatar. FSF juga meminta publik untuk tidak mudah percaya pada kabar yang tidak memiliki sumber resmi.
Senegal sendiri tersingkir setelah hanya mampu mengumpulkan tiga poin dari tiga laga di Grup H. Satu-satunya kemenangan diraih atas Ekuador, sebelum akhirnya kalah dari Belanda dan tuan rumah Qatar.
Kegagalan ini mengecewakan mengingat status Senegal sebagai juara bertahan Piala Afrika. Banyak pihak menyoroti inkonsistensi permainan sebagai penyebab utama, bukan isu di luar teknis.
Alih-alih memperpanjang polemik, federasi memilih untuk fokus pada evaluasi internal. Manajer tim Aliou Cisse disebut akan segera menggelar pertemuan dengan staf pelatih untuk membahas evaluasi performa.
“Kami akan melihat apa yang perlu diperbaiki. Tuduhan di luar lapangan hanya mengalihkan perhatian dari pekerjaan rumah yang sebenarnya,” tambah pernyataan FSF.