BENGKULU — Kepala Dinas Komunikasi, Informasi, dan Persandian Kota Bengkulu Nurlia Dewi mengungkapkan bahwa layanan panggilan darurat 112 kerap menerima laporan yang tidak sesuai peruntukan. Ia mencontohkan, banyak warga justru menelepon untuk mengadukan soal saluran drainase yang tersumbat atau rusak.
"Namun disayangkan banyak masyarakat yang menghubungi 112 untuk perbaikan drainase dan sebagainya," ujar Nurlia di Bengkulu, Kamis.
Nurlia menegaskan bahwa penyalahgunaan layanan ini berpotensi menghambat respons terhadap situasi yang benar-benar mengancam jiwa. Setiap laporan yang masuk akan diproses sesuai standar operasional yang ketat dan diteruskan ke Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait.
"Kami mengimbau kepada masyarakat untuk lebih selektif, untuk menghubungi nomor 112 dalam keadaan darurat, dan nantinya akan terkoneksi dengan OPD terkait," kata Nurlia.
Layanan call center 112 dirancang oleh pemerintah sebagai kanal utama bagi warga Kota Bengkulu yang membutuhkan pertolongan cepat saat terjadi kebakaran, banjir, atau kondisi darurat lainnya. Panggilan ke nomor ini tidak dipungut biaya alias gratis, dan petugas siaga selama 24 jam penuh.
Setelah laporan diterima, tim operator akan segera berkoordinasi dengan instansi serta perangkat daerah terkait untuk menindaklanjuti situasi di lapangan. Sebelumnya, Pemkot Bengkulu juga membuka layanan serupa melalui nomor 122 dengan jam operasional yang sama.
Nurlia menekankan bahwa kesadaran dan partisipasi aktif dari masyarakat sangat dibutuhkan agar layanan darurat ini dapat berfungsi secara optimal. Ia berharap ke depannya warga lebih memahami fungsi utama 112 sebagai jalur komunikasi untuk situasi kritis, bukan untuk pengaduan teknis harian.
"Kesadaran dan partisipasi aktif dari masyarakat sangat penting agar layanan tersebut dapat terus memberikan bantuan yang optimal bagi mereka yang membutuhkan," pungkas Nurlia.