Langkah DEA ini merupakan respons terhadap apa yang mereka sebut sebagai "risiko kesehatan masyarakat yang signifikan" dari pemasaran 7-OH sebagai suplemen herbal. Senyawa ini, yang ditemukan dalam tanaman kratom asal Asia Tenggara, memiliki profil farmakologis sebagai agonis opioid dengan potensi penyalahgunaan yang tinggi. Pelarangan sementara ini akan berlaku selama dua tahun, dengan opsi perpanjangan satu tahun, sementara DEA bekerja menuju pengaturan permanen.
Cam, seorang pria 36 tahun dari New York, adalah salah satu wajah di balik statistik ini. Setelah kecelakaan motor brutal pada September 2023 yang menghancurkannya secara fisik—patah tulang rusuk, tulang belakang, dan pinggul—ia bergulat dengan rasa sakit yang tak tertahankan. Dosis 15 miligram oksikodon per hari yang diresepkan dokter tidak mempan.
"Saya tidak tidur selama berbulan-bulan. Saya benar-benar menjerit kesakitan," katanya kepada WIRED. Pada awal 2024, iklan Instagram untuk sampel gratis 7-OH mengubah segalanya. Efek pereda nyerinya, menurut Cam, setara dengan dosis oksikodon yang jauh lebih tinggi. Ia kini menghabiskan sekitar Rp 8 juta (500 dolar AS) per bulan untuk membeli 7-OH secara daring dalam jumlah besar.
Tindakan DEA terjadi di tengah perpecahan internal yang tajam. Industri kratom arus utama, yang menjual daun kratom mentah, mendukung pelarangan 7-OH. Argumen mereka: senyawa ini jauh lebih kuat daripada kratom alami dan tidak boleh disamakan. Di sisi lain, pengguna setia 7-OH bersikeras bahwa zat ini sangat membantu dan tidak bisa dipisahkan dari kratom. Pemerintahan Trump, melalui Menteri Kesehatan Robert F. Kennedy dan Menteri Keamanan Dalam Negeri Markwayne Mullin—yang dikenal memiliki hubungan erat dengan industri kratom—telah memihak kelompok pertama. Kennedy menyebut industri 7-OH "jahat" karena produknya, termasuk gummy berwarna cerah, dinilai dipasarkan untuk anak-anak.
Bagi pengguna seperti Cam, ketergantungan adalah harga yang harus dibayar. Ia mengaku "tergantung" pada 7-OH dan variannya, MGM-15, dan merasakan gejala putus zat yang menyiksa saat berhenti. "Rasanya benar-benar seperti sampah, seperti opiat lainnya," akunya. Namun, ia menilai kualitas hidup yang didapatkannya sepadan. Yang lebih mengkhawatirkan adalah apa yang akan terjadi setelah larangan diberlakukan. Cam, yang sebelumnya berjuang melawan kecanduan alkohol, heroin, dan opioid resep, khawatir mantan pengguna 7-OH akan beralih ke opioid jalanan yang lebih berbahaya, memicu lonjakan kematian akibat overdosis.
Di Reddit dan Discord, grup seperti r/quitting7oh dengan 11.000 anggota dipenuhi dengan saran tentang cara mengurangi dosis secara bertahap. Satu pengguna melaporkan menghabiskan 175 dolar AS setiap empat hingga lima hari, hingga akhirnya jatuh sakit, berhenti bekerja, dan tidak bisa membayar sewa. DEA mencatat bahwa orang-orang menggunakan suplemen yang tidak diatur ini untuk mengobati sendiri rasa sakit kronis—sebuah pengakuan ironis yang kini menjadi dasar kepanikan mereka.