Harga Telur dan Ayam di Mukomuko Naik Drastis, Mitra Dapur MBG Bengkulu Desak Pemprov Turun Tangan

Penulis: Nofrizal Hasan  •  Sabtu, 01 Agustus 2026 | 10:20:32 WIB
Ketua HMD-Gemas Wehelmi Ade Tarigan menyampaikan keluhan kenaikan harga telur dan ayam di hadapan perwakilan pemerintah daerah di Bengkulu.

BENGKULU — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Provinsi Bengkulu menghadapi tekanan baru. Bukan dari sisi distribusi, melainkan dari gejolak harga bahan pangan pokok yang memukul mitra dapur di lapangan, terutama di Kabupaten Mukomuko.

Ketua HMD-Gemas, Wehelmi Ade Tarigan, menyebut harga komoditas yang dibeli para mitra saat ini telah menembus angka di atas data resmi instansi terkait. "Kami membeli telur dan ayam dengan harga yang jauh lebih tinggi dari standar yang dipatok. Ini jelas membebani biaya operasional kami," ujarnya saat menyuarakan aspirasi di hadapan perwakilan pemerintah daerah.

Biaya Membengkak, Target Kualitas Tetap Jalan

Desakan ini muncul bukan tanpa alasan. Di satu sisi, para mitra dapur dituntut konsisten menyajikan menu bergizi dan berkualitas setiap hari. Di sisi lain, kenaikan harga yang tidak diimbangi penyesuaian dukungan membuat perhitungan keuangan mereka menjadi sangat tipis.

Kondisi ini membuat margin operasional para mitra di Mukomuko dan kabupaten lain di Bengkulu kian mengecil. Jika dibiarkan, keberlanjutan program yang menyasar asupan gizi masyarakat ini bisa terganggu.

Pemprov Diminta Fasilitasi Rapat dengan Disperindag

Menghadapi situasi ini, HMD-Gemas tidak tinggal diam. Mereka mendesak Pemerintah Provinsi Bengkulu untuk segera memfasilitasi pertemuan dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag). Selain itu, Satuan Tugas (Satgas) MBG juga diminta lebih aktif mencari solusi nyata di tengah melambungnya harga pangan.

Langkah ini dinilai krusial untuk menjembatani kesenjangan antara harga acuan pemerintah dan realitas di pasar. Tanpa intervensi cepat, beban finansial para mitra akan terus bertambah.

Jawaban Pemprov: Koordinasi Lintas Instansi

Menanggapi keluhan tersebut, Asisten II Setda Provinsi Bengkulu, RA Denni, menyatakan bahwa pemerintah daerah akan menjembatani koordinasi antarinstansi guna mencari jalan keluar. "Kami memahami kesulitan mitra dapur. Ini menjadi perhatian serius agar program MBG tetap berjalan tanpa mengorbankan kualitas," katanya.

Pernyataan ini memberi sedikit ruang bernapas bagi para mitra. Namun, mereka tetap menunggu aksi nyata berupa penyesuaian kebijakan atau mekanisme lain yang mampu meredam dampak kenaikan harga.

Di balik sepiring makanan bergizi yang diterima warga Mukomuko dan wilayah lain di Bengkulu, terdapat perjuangan berat para mitra yang berusaha memberikan yang terbaik di tengah kondisi ekonomi yang tak menentu. Kini, bola ada di tangan pemda untuk memastikan program ini tidak berhenti di tengah jalan.

Reporter: Nofrizal Hasan
Sumber: klikinfoberita.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top