BENGKULU — Kondisi ekonomi petani di Provinsi Bengkulu menunjukkan arah yang berbeda pada Juli 2026. Subsektor tanaman perkebunan rakyat mencatat penguatan paling signifikan, sementara usaha peternakan justru mengalami koreksi akibat melemahnya harga jual komoditas.
Berdasarkan data BPS Provinsi Bengkulu, NTP perkebunan rakyat (NTPR) meningkat 2,66 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan ini terjadi karena indeks harga yang diterima petani (It) naik 2,52 persen, sementara indeks harga yang dibayar petani (Ib) justru mengalami penurunan.
Berbeda dengan sektor perkebunan, subsektor peternakan justru mencatatkan penurunan NTP sebesar 1,34 persen. Pelemahan ini utamanya disebabkan oleh harga hasil peternakan yang tidak bergerak menguntungkan di pasaran.
Tekanan paling dalam berasal dari kelompok unggas yang harganya turun hingga 4,44 persen. Kondisi ini memengaruhi pendapatan riil peternak di tengah biaya operasional yang relatif stagnan.
Kenaikan NTP perkebunan rakyat mengindikasikan bahwa petani komoditas seperti kelapa sawit, karet, dan kopi mendapatkan harga jual yang lebih baik di tingkat petani pada periode tersebut. Di sisi lain, beban belanja rumah tangga petani untuk kebutuhan konsumsi dan biaya produksi tercatat menurun.
Selisih antara kenaikan pendapatan dan penurunan pengeluaran inilah yang menghasilkan pertumbuhan NTP paling tinggi dibandingkan subsektor lainnya di Bengkulu pada Juli 2026.
Secara sederhana, NTP adalah perbandingan antara harga yang diterima petani dengan harga yang dibayar petani. Ketika angka NTP naik, daya beli petani secara riil ikut membaik karena pendapatan mereka tumbuh lebih cepat daripada pengeluaran sehari-hari.
Untuk peternak unggas, penurunan NTP menjadi sinyal bahwa pendapatan mereka tergerus. Jika tren ini berlanjut, peternak skala kecil berpotensi menahan produksi atau mengurangi populasi ternak untuk menekan kerugian.
BPS Provinsi Bengkulu terus memantau pergerakan harga di tingkat petani dan pedagang pengumpul sebagai bahan evaluasi kebijakan daerah ke depan.