Rumah Bubungan Lima menjadi identitas budaya Provinsi Bengkulu yang bentuknya berupa rumah panggung beratap limas menjulang. Bangunan ini bukan rumah tinggal sehari-hari, melainkan tempat musyawarah, penyambutan tamu, dan upacara pernikahan adat. Di balik konstruksinya tersimpan filosofi tiga bagian rumah hingga tradisi tolak bala sebelum bubungan dipasang.
BENGKULU — Rumah Bubungan Lima berdiri di atas sekitar 15 tiang dengan tinggi kurang lebih 1,8 meter. Atapnya berbentuk limas setinggi sekitar 3,5 meter, dan tangganya selalu dibuat berjumlah ganjil. Konstruksi kayu medang kemuning dipilih karena dinilai kuat dan tahan lama.
Petugas pemandu Museum Negeri Bengkulu, Arif, menjelaskan bahwa bentuk panggung yang tinggi bukan sekadar ciri bangunan. Tingginya rumah merupakan penyesuaian masyarakat Bengkulu terhadap lingkungan pesisir yang masih banyak dihuni hewan liar.
"Kalau Bengkulu kan rumah panggung, tinggi. Karena dekat pesisir, terus juga masih banyak hewan-hewan liar. Ya, jadi rumahnya tinggi, fungsinya tadi itu biar aman dari hewan-hewan liar," kata Arif.
Berdasarkan buku Rumah Adat Nusantara yang diterbitkan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Rumah Bubungan Lima difungsikan sebagai tempat penyelenggaraan berbagai kegiatan adat. Musyawarah warga, penyambutan tamu, hingga upacara pernikahan digelar di bangunan ini.
Kajian dalam Jurnal PRISMA Universitas Negeri Semarang mencatat fungsi panggung rumah juga untuk melindungi penghuninya dari serangan binatang liar maupun banjir. Dahulu, atap rumah menggunakan ijuk pohon enau. Sebagian atap kini telah diganti menggunakan seng.
Bangunan Rumah Bubungan Lima dibagi menjadi tiga bagian utama, yakni bagian atas, tengah, dan bawah. Bagian atas melambangkan hubungan manusia dengan Tuhan, diwujudkan melalui bentuk ujung atap dan ornamen selembayung sebagai simbol rasa syukur kepada Sang Pencipta.
Bagian tengah melambangkan keharmonisan hubungan antar manusia. Adapun bagian bawah mencerminkan penghormatan terhadap makhluk hidup lain. Bagian bawah rumah dimanfaatkan sebagai tempat menyimpan hasil panen, alat pertanian, hingga tempat berlindung hewan ternak.
Sebelum bubungan rumah dipasang, masyarakat Bengkulu menggelar ritual tolak bala. Hasil pertanian seperti tebu hitam, setandan pisang emas, dan kondu digantungkan pada bubungan rumah.
Bagian tulang bubungan juga diberi selembar kain putih yang telah dirajah. Kain itu menjadi simbol doa dan harapan agar penghuni rumah memperoleh keselamatan.
Jumlah anak tangga Rumah Bubungan Lima selalu ganjil. Menurut kajian jurnal tersebut, jumlah ganjil dipercaya sebagai simbol nilai ketuhanan yang dianut masyarakat Bengkulu. Buku Rumah Adat Nusantara juga menyebut tangga ganjil sebagai salah satu ciri khas rumah adat Bengkulu.
Keberadaan Rumah Bubungan Lima yang masih asli kini semakin sulit ditemukan. Jurnal PRISMA mencatat sebagian besar rumah adat telah berganti menjadi bangunan modern.
Contoh yang masih dapat dijumpai umumnya berupa replika yang telah disesuaikan dengan kebutuhan saat ini. Kondisi itu menunjukkan pentingnya upaya pelestarian agar Rumah Bubungan Lima tidak hanya dikenal melalui namanya.
Warisan budaya ini tetap perlu dipahami sebagai cerminan sejarah, filosofi, dan kearifan lokal masyarakat Bengkulu.