MicroStrategy menghentikan sementara aksi pembelian Bitcoin mingguan menjelang rilis laporan keuangan kuartal pertama pada Selasa (5/5). Langkah Michael Saylor ini menjadi perhatian serius pelaku pasar kripto di Indonesia mengingat perusahaan kini menguasai hampir 4 persen dari total pasokan Bitcoin global.
MicroStrategy, perusahaan publik pemegang Bitcoin terbesar di dunia, memutuskan untuk mengambil jeda dari rutinitas pembelian aset digitalnya. Michael Saylor, Executive Chairman MicroStrategy, mengonfirmasi bahwa perusahaan tidak akan menambah kepemilikan Bitcoin pada pekan ini, sesaat sebelum pengumuman kinerja keuangan kuartal pertama (Q1) 2026 rilis ke publik.
"Tidak ada pembelian minggu ini. Kembali bekerja minggu depan," tulis Saylor melalui akun X resminya pada Minggu (3/5). Pengumuman ini menandai kedua kalinya MicroStrategy melewatkan jadwal belanja rutin mereka sepanjang tahun 2026, setelah sebelumnya sempat absen pada akhir Maret lalu.
Keputusan ini muncul saat harga Bitcoin (BTC) menunjukkan tren positif di pasar Asia, bergerak di kisaran US$80.100 (sekitar Rp1,28 miliar) per keping. Angka tersebut mencerminkan kenaikan sekitar 20 persen dalam satu bulan terakhir, memberikan angin segar bagi portofolio jumbo milik perusahaan asal Amerika Serikat tersebut.
Portofolio Jumbo dan Proyeksi Kerugian Saham
Hingga saat ini, MicroStrategy menguasai total 818.334 BTC. Jumlah fantastis ini setara dengan hampir 3,9 persen dari total 21 juta pasokan tetap Bitcoin yang ada di dunia. Pada aksi korporasi terakhirnya, perusahaan memborong 3.273 BTC dengan harga rata-rata US$77.906 per keping.
Meski kepemilikan aset kriptonya terus membengkak, laporan keuangan hari Selasa diprediksi akan menunjukkan angka yang kontras. Analis Wall Street memperkirakan perusahaan akan melaporkan kerugian per saham (EPS) yang cukup dalam. Berikut rincian proyeksi kinerja keuangan MicroStrategy Q1 2026:
- Estimasi Pendapatan: US$125 juta (sekitar Rp2 triliun), naik 12,6% YoY.
- Proyeksi Kerugian (Yahoo Finance): US$27,33 per saham.
- Proyeksi Kerugian (Zacks Research): US$3,41 per saham.
- Total Kepemilikan BTC: 818.334 koin.
Kenaikan pendapatan dari bisnis perangkat lunak (software) intelijen bisnis menunjukkan operasional dasar perusahaan masih tumbuh. Namun, identitas MicroStrategy kini telah bergeser sepenuhnya di mata investor, dari sekadar perusahaan software menjadi entitas kendaraan pembiayaan Bitcoin.
Risiko di Balik Mesin Pendanaan Michael Saylor
Pasar kini lebih fokus pada kemampuan Saylor dalam menghimpun modal ketimbang performa operasional perangkat lunaknya. Salah satu instrumen yang sedang disorot adalah STRC, produk saham preferen abadi (perpetual preferred stock) yang menawarkan dividen bulanan variabel dengan imbal hasil (yield) tahunan sekitar 11,5 persen.
Produk ini dirancang untuk diperdagangkan di kisaran harga US$100, didukung oleh neraca keuangan perusahaan yang sarat dengan Bitcoin. Strategi ini sangat menguntungkan saat harga Bitcoin naik karena meningkatkan valuasi perusahaan dan mempermudah penggalangan modal baru. Sebaliknya, jika sentimen pasar kripto memburuk, struktur modal ini berisiko menjadi lebih rapuh bagi para pemegang saham.
Adopsi Blockchain Figure di Sektor Kredit
Di sisi lain industri kripto, perusahaan teknologi finansial Figure melaporkan pencapaian signifikan dengan menembus angka US$1 miliar dalam penyaluran pinjaman bulanan pada Maret lalu. CEO Figure, Mike Cagney, menyatakan keberhasilan ini memvalidasi penggunaan blockchain untuk memangkas peran perantara dalam pasar kredit dan sekuritisasi.
Figure kini tengah gencar meluncurkan produk baru mulai dari brankas kredit DeFi hingga ekuitas yang ditokenisasi. Langkah ini bertujuan mendemokratisasi akses aset dunia nyata (Real World Assets/RWA) ke dalam rantai blok (on-chain), yang juga mulai menjadi tren besar di kalangan investor institusi di Asia dan Indonesia.
Dampak Bagi Investor Kripto di Indonesia
Laporan keuangan MicroStrategy seringkali menjadi indikator sentimen bagi investor institusi global. Jika pasar merespons positif strategi pendanaan Saylor meski ada kerugian per saham, hal ini dapat memperkuat kepercayaan diri investor ritel di Indonesia untuk terus melakukan akumulasi.
Investor lokal perlu mencermati bagaimana MicroStrategy mengelola risiko saat harga Bitcoin berada di level psikologis tinggi. Transparansi mengenai instrumen STRC dan kemampuan perusahaan mempertahankan likuiditas di tengah volatilitas akan menjadi pelajaran penting bagi ekosistem aset digital yang sedang berkembang pesat di tanah air.
Setelah pengumuman laporan keuangan ini, Michael Saylor dipastikan akan kembali melanjutkan program pembelian Bitcoin pekan depan. Fokus pasar saat ini tertuju pada seberapa besar kepercayaan investor terhadap mekanisme pendanaan MicroStrategy yang semakin kompleks.