Pencarian

PWNU Bengkulu Gelar Bahtsul Masail Wilayah ke-IV, Bahas Zakat Kelapa Sawit dan Zakat Pendidikan di Bengkulu Utara

Minggu, 07 Juni 2026 • 23:37:01 WIB
PWNU Bengkulu Gelar Bahtsul Masail Wilayah ke-IV, Bahas Zakat Kelapa Sawit dan Zakat Pendidikan di Bengkulu Utara
Ratusan ulama dan santri mengikuti Bahtsul Masail Wilayah ke-IV di Pondok Pesantren An-Nahdloh, Bengkulu Utara.

BENGKULU UTARA — Ratusan ulama, akademisi, dan santri dari berbagai daerah di Provinsi Bengkulu berpartisipasi dalam forum Bahtsul Masail Wilayah (BMW) ke-IV yang digelar PWNU Bengkulu. Forum yang merupakan tradisi intelektual khas Nahdlatul Ulama ini berlangsung di Pondok Pesantren An-Nahdloh, Bengkulu Utara, dengan Rais Syuriah PWNU Provinsi Bengkulu KH Hasbullah Achmad dan Katib Syuriah KH Aly Shodiq turut hadir langsung.

Mengapa Zakat Sawit dan Zakat Pendidikan Jadi Prioritas?

Pemilihan tema zakat kelapa sawit dan zakat pendidikan bukan tanpa alasan. Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PWNU Provinsi Bengkulu, Kiai Syamsul Maarif, M.Ag, menjelaskan bahwa Bengkulu merupakan salah satu daerah penghasil kelapa sawit terbesar di Indonesia. Masyarakat kerap kebingungan soal mekanisme dan ketentuan zakat dari hasil perkebunan tersebut.

"Bengkulu memiliki potensi perkebunan kelapa sawit yang sangat besar. Karena itu diperlukan kejelasan hukum agar masyarakat memiliki pedoman yang benar dalam menunaikan kewajiban zakat," ujar Syamsul Maarif. Ia menambahkan bahwa isu zakat untuk pendidikan juga menjadi sorotan karena menyangkut perluasan akses belajar bagi warga kurang mampu sekaligus peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Metodologi Istinbath Hukum Ala Ahlussunnah wal Jamaah

Seluruh pembahasan dalam forum ini menggunakan metodologi istinbath hukum Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah. Para peserta berpedoman pada Al-Qur’an, hadis, ijma’, qiyas, serta kitab-kitab turats yang menjadi rujukan utama para ulama. Setiap persoalan dibahas secara mendalam melalui telaah kitab mu’tabarah dan diskusi ilmiah yang ketat.

Dalam arahannya, Rais Syuriah PWNU Bengkulu KH Hasbullah Achmad menegaskan pentingnya forum ini sebagai pilar keilmuan. "Bahtsul Masail adalah bentuk tafaqquh fiddin dan jantung keilmuan Nahdlatul Ulama yang tidak boleh redup. Melalui forum ini, para ulama dan santri dilatih untuk berpikir kritis, mendalami khazanah keilmuan Islam, sekaligus menghadirkan solusi yang dapat menjawab kebutuhan umat," tegasnya.

Dampak Langsung bagi Warga dan Pondok Pesantren

Kegiatan ini dihadiri oleh delegasi pondok pesantren dan jajaran Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) dari seluruh kabupaten dan kota di Bengkulu. Mereka aktif menyampaikan pandangan serta referensi dari kitab klasik dan kajian kontemporer untuk memperkaya musyawarah. Hasil rumusan dari forum ini diharapkan menjadi pedoman hukum yang aplikatif bagi warga Nahdliyin dan masyarakat luas.

Syamsul Maarif menekankan bahwa forum ini bukan sekadar diskusi akademik. "Bahtsul Masail bukan sekadar forum diskusi, tetapi merupakan ikhtiar kolektif para ulama dalam menghadirkan jawaban keagamaan yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariat dan kebutuhan masyarakat," ujarnya. Ia berharap keputusan yang dihasilkan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah maupun syar’i.

Melalui penyelenggaraan BMW ke-IV ini, PWNU Bengkulu kembali meneguhkan komitmennya dalam menjaga tradisi intelektual pesantren. Forum ini juga menjadi bukti bahwa budaya musyawarah ilmiah tetap hidup dan relevan dalam menjawab persoalan kontemporer di era modern.

Bagikan
Sumber: viralpublik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks