BENGKULU — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu meminta pemerintah daerah tak hanya fokus menekan angka kemiskinan, tetapi juga mengurangi ketimpangan antarwilayah. Rekomendasi ini muncul di tengah tren penurunan jumlah penduduk miskin yang melambat dalam beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan data BPS per Maret 2026, persentase penduduk miskin di Bengkulu tercatat 11,83 persen atau setara 250,11 ribu jiwa. Angka ini hanya turun tipis 0,05 poin persentase dibandingkan September 2025 yang mencapai 11,88 persen.
Mengapa Daya Beli Jadi Prioritas Utama?
Win Rizal menjelaskan, pertumbuhan pengeluaran rumah tangga miskin harus lebih cepat dari kenaikan garis kemiskinan. Jika kondisi ini tercipta, semakin banyak warga yang mampu keluar dari kategori miskin secara permanen.
"Yang harus mampu kita lakukan adalah meningkatkan daya beli masyarakat. Kemudian penyerapan tenaga kerja juga harus ditingkatkan," ujar Win Rizal di Bengkulu, Rabu.
Menurutnya, penguatan daya beli tidak bisa instan. Dibutuhkan intervensi kebijakan yang menyentuh langsung kebutuhan pokok warga, baik melalui stabilisasi harga pangan maupun perluasan bantuan sosial yang tepat sasaran.
Sektor Formal dan UMKM Jadi Penopang Pendapatan
Perluasan kesempatan kerja, khususnya di sektor formal, dinilai krusial untuk meningkatkan kualitas pendapatan masyarakat. Lapangan kerja formal menawarkan upah lebih stabil dan jaminan sosial dibandingkan sektor informal.
Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) juga menjadi perhatian khusus. Win Rizal mendorong agar para pelaku usaha kecil terus difasilitasi sehingga mampu mengembangkan skala bisnisnya.
"Bagi masyarakat yang berwirausaha juga perlu difasilitasi agar berkembang," tegasnya.
Produktivitas Pertanian: Mesin Utama yang Belum Optimal
Perhatian terbesar BPS tertuju pada sektor pertanian. Sektor ini menyerap hampir separuh total tenaga kerja di Bengkulu, namun kontribusinya terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) baru sekitar 31 persen.
Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan produktivitas yang signifikan. Petani dan buruh tani bekerja keras, tetapi nilai tambah yang dihasilkan masih rendah dibandingkan serapan tenaganya.
"Kalau produktivitas tenaga kerja di sektor pertanian meningkat, pendapatan masyarakat juga akan naik sehingga dapat membantu menekan kemiskinan," ujar Win Rizal.
Penurunan Kemiskinan Bukan Proses Instan
Meski tren kemiskinan menunjukkan perbaikan, BPS mengingatkan bahwa kedalaman dan keparahan kemiskinan masih perlu menjadi perhatian. Manfaat pertumbuhan ekonomi harus dirasakan merata, bukan hanya dinikmati kelompok menengah ke atas.
Win Rizal menegaskan bahwa pengentasan kemiskinan merupakan pekerjaan rumah bersama. Faktor penyebabnya beragam, mulai dari akses pendidikan, kesehatan, hingga infrastruktur dasar.
"Penurunan kemiskinan merupakan proses yang memerlukan upaya berkelanjutan dan peran serta semua elemen, karena kemiskinan dipengaruhi berbagai faktor yang tentunya tidak bisa diselesaikan secara instan dan hanya oleh satu pihak saja," pungkasnya.