IHSG Terkoreksi 8,69% dalam Sepekan, Aksi Jual Asing Tembus Rp7,4 Triliun Usai Rebalancing FTSE

Penulis: Syahrul Karim  •  Senin, 08 Juni 2026 | 10:49:01 WIB
IHSG terkoreksi 8,69% dalam sepekan seiring aksi jual asing mencapai Rp7,4 triliun pasca rebalancing FTSE.

BENGKULU — Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah, mengatakan pelemahan IHSG pekan lalu merupakan yang terberat dalam beberapa bulan karena tekanan datang bersamaan dari berbagai sisi. "Kombinasi ketiga faktor tersebut membentuk tekanan yang sulit diimbangi oleh aliran dana domestik," ujarnya dalam riset, Senin (8/6).

Dolar AS Tembus Rp18.000 dan Inflasi di Atas Ekspektasi

Pelemahan rupiah yang menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat menjadi faktor domestik yang memperberat IHSG. Kondisi itu diperparah oleh inflasi Indonesia pada Mei 2026 yang tercatat 3,08 persen secara tahunan (year on year), lebih tinggi dari perkiraan pasar. Data ini memicu kekhawatiran bahwa daya beli masyarakat mulai tergerus di tengah tekanan nilai tukar.

Wall Street Jatuh, Saham Teknologi Anjlok karena Broadcom dan SpaceX

Dari eksternal, indeks Nasdaq Composite memimpin pelemahan Wall Street dengan koreksi 4,18 persen ke level 25.709 pada Jumat (5/6). Aksi jual besar-besaran terjadi di sektor semikonduktor setelah Broadcom gagal menaikkan proyeksi bisnis kecerdasan buatan (AI). Saham Marvell anjlok 16 persen, Micron turun 13 persen, sementara Intel dan AMD masing-masing melemah sekitar 11 persen.

Sentimen semakin tertekan setelah data non-farm payrolls (NFP) Amerika Serikat untuk Mei menunjukkan penambahan 172.000 tenaga kerja, jauh di atas ekspektasi 80.000. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun pun menembus level 4,5 persen, dan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada akhir tahun naik menjadi 72,7 persen.

IPO SpaceX Senilai USD75 Miliar Berpotensi Menguras Likuiditas Global

Sebagian investor global mulai melakukan likuidasi saham teknologi untuk mengumpulkan dana menjelang IPO SpaceX yang dijadwalkan melantai di Nasdaq pada 12 Juni 2026. Perusahaan milik Elon Musk itu menargetkan valuasi USD1,75 triliun dengan potensi penghimpunan dana mencapai USD75 miliar. "Event ini berpotensi menjadi liquidity event terbesar dalam sejarah dan dapat memperparah volatilitas jangka pendek," kata Hari.

Pekan Ini: Data CPI AS dan Keyakinan Konsumen Indonesia Jadi Sorotan

Pasar akan mencermati data inflasi AS (Consumer Price Index) untuk Mei yang dirilis pada Rabu (10/6), disusul data Producer Price Index sehari setelahnya. Laporan kinerja Oracle dan Adobe juga akan menjadi indikator kekuatan sektor teknologi.

Dari dalam negeri, investor menunggu rilis cadangan devisa Mei pada Senin (8/6), data keyakinan konsumen pada Rabu (10/6), serta data penjualan ritel April pada Kamis (11/6). Menurut Hari, data-data tersebut menjadi indikator penting untuk mengukur daya beli masyarakat dan ketahanan sektor eksternal Indonesia. Efek rebalancing FTSE Russell yang efektif berlaku pada 22 Juni 2026 juga diperkirakan masih membayangi pergerakan IHSG karena proses penyesuaian portofolio belum sepenuhnya selesai.

Investasi mengandung risiko.

Reporter: Syahrul Karim
Sumber: kabarbursa.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top