BENGKULU — Kenaikan harga oli kendaraan dalam beberapa pekan terakhir disebut lebih parah dari penyesuaian harga tahunan. Tjahja Tandjung, pemilik Bengkel Toda, menyatakan bahwa hampir seluruh merek oli yang beredar di pasaran mengalami kenaikan harga secara bersamaan.
“Iya bener naik semua harga oli, hampir di semua merek naik,” ujarnya kepada GridOto.com, Jumat (12/6/2026).
Menurut Tjahja, dalam kondisi normal, produsen oli biasanya menyesuaikan harga di kisaran 5 hingga 10 persen setiap periode tertentu. Namun, kali ini angkanya melonjak drastis.
“Biasanya kalau normal kan naik 5-10%, kalau sekarang naiknya sekitar 20-40% dan masih kemungkinan akan naik lagi, tinggal tunggu waktu aja,” jelasnya.
Kenaikan ini langsung berdampak pada biaya perawatan kendaraan, terutama bagi pemilik yang rutin melakukan ganti oli di bengkel umum atau bengkel resmi.
Tjahja menjelaskan bahwa lonjakan harga ini bukan tanpa sebab. Menurutnya, kenaikan dipicu oleh mahalnya biaya produksi di tingkat pabrikan.
“Karena materialnya semua naik, dari base oil, additif, packaging plastik, label dan lain-lain,” lanjut Tjahja.
Base oil sebagai komponen utama oli, ditambah bahan aditif dan biaya kemasan, disebut menjadi faktor dominan. Situasi ini diperparah dengan fluktuasi harga minyak mentah global yang mempengaruhi harga base oil di pasar internasional.
Pernyataan Tjahja soal potensi kenaikan lanjutan menjadi kekhawatiran tersendiri bagi pemilik kendaraan. Ia memprediksi harga oli belum akan stabil dalam waktu dekat.
“Tinggal tunggu waktu aja,” ujarnya singkat merujuk pada kemungkinan gelombang kenaikan berikutnya.
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari asosiasi produsen oli atau pabrikan besar mengenai kebijakan harga ke depan. Namun, pemilik bengkel dan konsumen sudah mulai merasakan dampaknya saat membeli oli untuk servis rutin.