BENGKULU — BYD meluncurkan mobil listrik terbarunya, BYD Racco, yang secara spesifik dirancang untuk bersaing di segmen kei car Jepang. Langkah ini menjadi ujian berat karena segmen mobil super mungil tersebut selama puluhan tahun hanya dikuasai oleh pabrikan Jepang seperti Honda, Suzuki, dan Daihatsu.
Racco hadir dengan dimensi sangat ringkas: panjang 3.402 mm, lebar 1.473 mm, dan tinggi di bawah 1.803 mm—angka yang pas untuk lolos regulasi kei car. Radius putarnya hanya 9,6 meter, lebih rapat dari Honda Civic yang mencapai 11 meter. Mobil ini mampu menampung empat penumpang dan memiliki bagasi 0,28 meter kubik.
BYD menyediakan dua pilihan baterai untuk Racco. Varian dasar Racco 200 dibekali baterai 22,4 kWh yang mampu menempuh 209 km dalam siklus pengujian. Sementara varian Racco 300 Plus dan 300 Premium menggunakan baterai 35,8 kWh dengan jarak tempuh 320 km.
Motor listrik penggerak roda depan hanya menghasilkan 63 dk dan torsi 160 Nm. Untuk pengisian daya, mobil ini mendukung fast charging hingga 50 kW serta fitur pemanas baterai. Varian 300 Plus dan Premium mendapat material interior lebih baik: jok kain anti air untuk Plus dan jok sintetis kulit untuk Premium.
BYD menawarkan cicilan 60 bulan tanpa uang muka sebesar setara Rp 1,9 juta per bulan. Pemerintah Jepang juga menyediakan subsidi hingga setara Rp 14,4 juta per unit, yang bisa menekan harga Racco 200 menjadi sekitar Rp 192 juta.
Sebagai perbandingan, Honda N-Box dan Toyota Roomy versi bensin bisa didapat di bawah setara Rp 176 juta. Sementara pesaing listrik langsung, Nissan Sakura, dibanderol mulai setara Rp 240 juta dengan jarak tempuh hanya 180 km. Dari sisi harga, Racco berada di posisi kompetitif untuk mobil listrik mungil.
Nama Racco sendiri diambil dari kata "raccoon" atau rakun, merujuk pada desain lampu depan hitam yang menyerupai topeng hitam hewan tersebut. Mobil ini mengusung velg 15 inci, pintu geser elektrik, dan layar sentuh 10,1 inci sebagai standar.
BYD menargetkan pembeli muda perkotaan dan keluarga kecil di Jepang. Namun loyalitas konsumen Jepang terhadap merek domestik menjadi tantangan terbesar yang harus dihadapi pabrikan asal China ini.