BENGKULU — Laporan terbaru dari Wired mengungkap bahwa kemampuan Flock melampaui fungsi awalnya sebagai alat bantu kepolisian. Alat yang sebelumnya dikenal dengan nama Nightshift ini diklaim bisa mencari seseorang di area tertentu di peta hanya bermodalkan deskripsi fisik. Petugas tidak perlu memasukkan nomor plat, nama, atau bahkan laporan kejahatan untuk memulai pencarian—cukup lokasi, waktu, dan pola perilaku.
OS Investigate menarik data dari jaringan kamera yang tersebar di ribuan komunitas dan mencatat pergerakan pengemudi di wilayah tersebut. Data ini kemudian bisa disilangkan dengan berkas perkara polisi, log panggilan 911, hingga catatan identitas komersial untuk menemukan nama, alamat rumah, kerabat, bahkan teman dari calon saksi.
Fitur yang paling kontroversial adalah komponen chatbot. Petugas bisa memasukkan perintah (prompt) untuk mencari saksi berdasarkan kendaraan yang paling sering terlihat di lingkungan tertentu dalam jangka waktu tertentu. Menariknya, prompt ini tidak mengharuskan pengguna untuk memasukkan insiden atau kejahatan spesifik. Flock mengonfirmasi produk ini sedang diuji dengan mitra penegak hukum tertentu, namun menegaskan kapabilitas saat ini "mungkin tidak mencerminkan" produk final yang akan dijual.
Noel Pichardo, mantan petugas polisi yang meninjau perangkat lunak ini untuk Wired, menyuarakan kekhawatirannya. "Saya tidak tahu harus berkata apa lagi, tapi ini terdengar sangat gila. Saya tidak tahu bagaimana orang bisa membantah gagasan bahwa Flock benar-benar melacak orang," ujarnya.
Di sisi lain, seorang petugas polisi aktif yang enggan disebut namanya mengakui aspek pencarian saksi membuatnya "sedikit tidak nyaman", namun menambahkan bahwa penegak hukum harus memanfaatkan semua alat yang tersedia. Chad Marlow, pengacara dari ACLU, menyoroti bahaya dari sistem ini. "Perbedaan antara petugas polisi yang bertanya 'Apakah kamu melihat pola kriminal?' atau 'Temukan saya pola kriminal' akan menghasilkan dua hal yang berbeda," jelasnya. "Fakta bahwa mereka tampaknya tidak memiliki batasan pada prompt memungkinkan polisi untuk hampir mengarahkan AI dalam apa yang dilakukannya."
Kekhawatiran ini bukan tanpa dasar. Telah banyak laporan tentang oknum polisi yang menyalahgunakan kamera Flock untuk memata-matai atau menguntit mantan pasangan. Flock pun sempat memperkenalkan sejumlah pengaman, seperti kemampuan mengunci pengguna yang ditandai dan kewajiban melampirkan kode kasus pada pencarian. Namun, belum jelas pengaman seperti apa yang akan diterapkan pada perangkat lunak beta ini.
Ketidaknyamanan publik ini memicu reaksi nyata. Sejumlah aparat penegak hukum memutuskan kerja sama dengan Flock, dan warga mulai mengambil tindakan sendiri. Kamera Flock dilaporkan dirusak, dihancurkan, atau dicuri di berbagai wilayah AS. Salah satu kota di Minnesota bahkan menemukan semua kamera Flock-nya hilang dalam semalam, dan departemen kepolisian setempat memutuskan untuk tidak menggantinya.
Kasus terbaru bahkan menyeret seorang petugas polisi Massachusetts yang terancam dipecat dan dituntut karena diduga menyalahgunakan akses informasi dari kamera Flock. Sementara itu, sebuah komunitas di Ohio menyerukan penghentian sementara penggunaan sistem pengawasan Flock. Situasi ini menunjukkan bahwa meskipun teknologi ini menawarkan efisiensi bagi investigasi, dampaknya terhadap privasi publik memicu perdebatan yang semakin tajam.