Di ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut, perkebunan kopi di Rejang Lebong menghasilkan biji robusta yang diincar roastery di Italia dan Jepang. Ini bukan cerita baru. Sejak 2019, Kopi Bengkulu resmi mendapat Indikasi Geografis dari Kementerian Hukum dan HAM. Tapi, apa yang membuatnya beda dari kopi Lampung atau Sumatera Selatan?
Artikel ini mengupas tujuh produk lokal Bengkulu yang sudah menembus pasar global. Bukan cuma kopi. Ada juga madu hutan, kain tradisional, hingga gula aren. Semua punya cerita dan nilai jual yang membuat pembeli internasional rela bayar lebih.
1. Kopi Robusta Bengkulu
Biji kopi dari lereng Gunung Kaba dan Bukit Daun punya karakter body tebal dengan acidity rendah. Petani di Kecamatan Sindang Dataran dan Selupu Rejang sudah mengekspor biji hijau ke Eropa sejak 2015. Harga biji hijau mentah di tingkat petani berkisar Rp35.000–Rp50.000 per kilogram, tergantung grade.
Untuk konsumen lokal, kopi bubuk siap seduh bisa didapat di Pasar Panorama, Kota Bengkulu, mulai Rp25.000 per 250 gram. Tips: cari yang bertuliskan "Kopi Robusta Sindang" di kemasannya—itu jaminan asli dataran tinggi.
2. Madu Hutan Sialang
Lebah liar yang bersarang di pohon sialang di hutan lindung Bengkulu Utara menghasilkan madu dengan kadar air di bawah 20%. Madu ini sudah diekspor ke Malaysia dan Singapura sejak 2021. Harganya lebih mahal dari madu ternak: Rp150.000–Rp200.000 per 500 mililiter di pasar tradisional.
Di Kecamatan Kerkap, ada kelompok tani hutan yang menjual langsung madu sialang. Satu sarang bisa menghasilkan 5–10 liter per panen. Kalau mau beli di kota, toko oleh-oleh di Jalan S. Parman, Bengkulu, biasanya stok terbatas—datang pagi hari.
3. Kain Besurek
Kain tenun khas Bengkulu dengan motif kaligrafi Arab—pengaruh Kesultanan Bengkulu di abad ke-18. Motifnya bukan sekadar hiasan: ada tulisan "Basmalah" atau "Syahadat" yang ditenun manual. Perajin di Kelurahan Jalan Gedang, Kecamatan Gading Cempaka, masih memproduksi dengan alat tenun bukan mesin.
Kain besurek asli tenun tangan dihargai Rp500.000–Rp1.500.000 per lembar, tergantung kerumitan motif. Untuk versi sablon (lebih murah, Rp100.000–Rp250.000), banyak dijual di Pasar Baru Kota Bengkulu. Tapi ingat: versi sablon tidak dianggap "kain pusaka" oleh masyarakat adat.
4. Gula Aren Cair
Nira aren dari pohon di daerah Manna, Bengkulu Selatan, diolah tanpa bahan pengawet dan punya indeks glikemik lebih rendah dari gula tebu. Produk ini diekspor ke Australia dan Belanda dalam kemasan botol kaca 500 mililiter. Harganya Rp35.000–Rp50.000 per botol di supermarket lokal.
Di Pasar Minggu, Kota Bengkulu, petani menjual gula aren cair langsung dari jerigen dengan harga Rp20.000 per liter. Tapi pastikan nira direbus minimal 4 jam—kalau terlalu cair, itu pertanda belum matang sempurna.
5. Ikan Asin Salingka
Ikan salingka (sejenis teri besar) yang diasinkan dan dijemur di Pantai Panjang, Kota Bengkulu. Rasanya gurih, teksturnya kering tapi tidak keras. Ekspor utama ke Malaysia dan Thailand. Harga per kilogram di pasar tradisional: Rp60.000–Rp80.000.
Proses penjemuran butuh 3 hari di bawah sinar matahari langsung—itulah kenapa produksi terhenti saat musim hujan (November–Februari). Stok paling banyak di Mei–September. Beli di Pasar Panorama, cari yang warna keemasan, bukan cokelat gelap (tanda terlalu lama dijemur).
6. Lemang Tapai
Lemang (beras ketan dimasak dalam bambu) yang difermentasi dengan ragi tapai. Rasanya manis-asam, teksturnya lembut. Produk ini sudah masuk daftar kuliner warisan budaya tak benda Bengkulu. Diproduksi di Kecamatan Ratu Agung, Kota Bengkulu.
Satu batang lemang tapai (isi 10–12 potong) dijual Rp40.000–Rp60.000. Tapi ini makanan musiman—banyak dijual saat bulan Ramadan dan Lebaran. Di luar itu, pesan dulu ke perajin di Kelurahan Kebun Kenanga minimal 3 hari sebelumnya.
7. Minyak Nilam
Minyak atsiri hasil destilasi daun nilam yang ditanam di Bengkulu Utara dan Seluma. Kandungan patchouli alcohol-nya di atas 30%, standar ekspor ke Prancis dan India untuk bahan parfum. Harga per kilogram: Rp300.000–Rp500.000 di tingkat petani penyuling.
Desa Sumber Agung, Kecamatan Ketahun, punya 15 unit penyulingan skala rumah tangga. Satu kali destilasi butuh 8 jam untuk 5 kilogram daun kering—menghasilkan 200–300 mililiter minyak murni. Di pasaran, minyak nilam sering dipalsukan dengan minyak kelapa. Cara bedakan: teteskan ke kertas—minyak asli tidak meninggalkan noda berminyak.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah kopi Bengkulu bisa dibeli secara online?
Bisa. Beberapa roastery di Jakarta dan Bandung menjual Kopi Robusta Bengkulu via marketplace. Tapi pastikan tanggal roasting-nya maksimal 2 minggu sebelum pembelian.
Berapa lama madu sialang Bengkulu bisa bertahan?
Madu sialang asli bisa bertahan 2–3 tahun jika disimpan di wadah kaca tertutup rapat, suhu ruang, tidak terkena sinar matahari langsung.
Kain besurek asli vs sablon, bagaimana bedanya?
Kain asli tenun tangan punya tekstur tidak rata saat diraba, motif timbul di kedua sisi. Sablon hanya timbul di satu sisi dan lebih tipis.
Di mana tempat belanja produk lokal Bengkulu paling lengkap?
Pasar Panorama di pusat Kota Bengkulu. Buka dari jam 6 pagi sampai 5 sore. Paling ramai hari Minggu pagi.
Apakah produk Bengkulu ada yang punya sertifikasi halal?
Kopi, gula aren, dan madu umumnya halal alami. Untuk ikan asin dan lemang tapai, cek label MUI di kemasan—beberapa produsen besar sudah bersertifikat.
Produk lokal Bengkulu bukan sekadar oleh-oleh. Kopi robusta, madu sialang, dan minyak nilam sudah membuktikan diri di pasar global. Kalau Anda mampir ke Bengkulu, jangan cuma foto Pantai Panjang—mampir ke Pasar Panorama, tawar-menawar, dan bawa pulang cerita tentang biji kopi yang diseduh di Roma atau kain yang dipakai di Kuala Lumpur.