Pencarian

Cetak Laba US$82 Juta di Kuartal I 2026, MBMA Kebal Tekanan Harga Nikel Global

Sabtu, 11 Juli 2026 • 17:32:41 WIB
Cetak Laba US$82 Juta di Kuartal I 2026, MBMA Kebal Tekanan Harga Nikel Global
MBMA catat laba bersih US$29,9 juta di kuartal I 2026, didukung lonjakan produksi nikel.

BENGKULU — Kenaikan pendapatan MBMA ditopang oleh tiga lini utama. Pertama, volume bijih nikel yang ditambang melonjak 143 persen menjadi 7,7 juta wet metric tonnes (wmt), didorong produksi limonit dan saprolit dari tambang Sulawesi Cahaya Mineral (SCM). Kedua, harga jual rata-rata yang lebih baik, terutama untuk bijih limonit yang mencatat margin tunai US$10,1 per wmt. Ketiga, penguatan margin bisnis Nickel Pig Iron (NPI) setelah smelter selesai menjalani pemeliharaan pada 2025.

Akibatnya, EBITDA MBMA meroket 361 persen secara tahunan menjadi US$143 juta. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk (NPATMI) juga berbalik positif menjadi US$29,9 juta, dari posisi rugi US$3,5 juta pada kuartal I 2025.

Produksi dan Penjualan Bijih & Olahan Tumbuh Dua Digit

Direktur Utama MBMA Teddy Nuryanto Oetomo mengatakan, awal tahun 2026 menjadi momentum penguatan bagi perseroan. "Didukung oleh peningkatan volume bijih nikel, harga jual yang lebih baik, dan penguatan margin NPI, sejalan dengan kenaikan produksi limonit dan saprolit," ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (10/7).

Penjualan limonit naik 126 persen menjadi 4,8 juta wmt, terutama untuk memasok pabrik High Pressure Acid Leaching (HPAL). Pengiriman saprolit meningkat 42 persen menjadi 1,9 juta wmt, mengoptimalkan pasokan dari tambang SCM ke smelter milik MBMA sendiri.

Di segmen Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF), perusahaan mengolah 2,2 juta wmt bijih saprolit dan menghasilkan 19.990 ton nikel dalam bentuk NPI, termasuk Low-Grade Nickel Matte (LGNM). Produksi dan penjualan NPI naik 23 persen secara tahunan. Sementara itu, produksi High-Grade Nickel Matte (HGNM) meningkat 9 persen menjadi 10.361 ton, meski penjualannya turun 19 persen akibat perbedaan waktu pengiriman.

Proyek Hilir HPAL SLNC Nyaris Rampung, Produksi MHP Ditargetkan Semester II

Pada lini hilir, PT ESG New Energy Material telah memproduksi 5.194 ton nikel dalam bentuk Mixed Hydroxide Precipitate (MHP). Efisiensi pasokan bijih membaik setelah beroperasinya Feed Preparation Plant SCM dan jalur pipa slurry menuju kawasan industri IMIP.

MBMA juga terus mempercepat proyek PT Sulawesi Nickel Cobalt (SLNC). Hingga akhir kuartal I 2026, pembangunan pabrik HPAL telah mencapai 95 persen, sedangkan Feed Preparation Plant mencapai 94 persen. Proyek ini telah menyelesaikan tahap commissioning pada akhir kuartal II 2026 dan kini menunggu penerbitan Izin Usaha Industri (IUI). Produksi komersial dijadwalkan meningkat secara bertahap pada semester II 2026.

Target 2026: Kirim 10 Juta Wmt Bijih Saprolit, Produksi 80.000 Ton NPI

Untuk sepanjang 2026, MBMA menargetkan pengiriman 8–10 juta wmt bijih saprolit, penjualan 20–25 juta wmt bijih limonit, produksi 70.000–80.000 ton nikel dalam bentuk NPI, 44.000–48.000 ton HGNM, serta 27.000–30.000 ton MHP dari operasi HPAL ESG. Target tersebut masih bergantung pada persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).

Dari sisi keuangan, posisi kas dan setara kas MBMA per 31 Maret 2026 tercatat US$350 juta. Total utang US$1,06 miliar, dengan utang bersih US$710 juta. Rasio utang bersih terhadap EBITDA berada di level 2,1 kali, jauh di bawah batas covenant sebesar lima kali.

Kinerja solid di awal tahun ini memperkuat posisi MBMA sebagai salah satu pemain nikel terintegrasi di Indonesia, dari hulu pertambangan hingga hilir produksi baterai kendaraan listrik.

Bagikan
Sumber: tambang.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks