BENGKULU UTARA — Akses utama yang menghubungkan Desa Air Sebayur di Kecamatan Pinang Raya dengan Desa Tanjung Anom di Kecamatan Giri Mulya lumpuh total. Insiden ini dipicu oleh sebuah dump truck bermuatan koral yang terperosok tepat di tengah Jembatan Simpang Batu pada Rabu (6/5/2026) pagi sekitar pukul 10.30 WIB.
Kondisi lantai jembatan yang sudah tua diduga tidak mampu menahan beban kendaraan berat. Akibatnya, roda belakang truk Hino Dutro dengan nomor polisi BD 8525 DI tersebut amblas ke dalam struktur jembatan di wilayah Dusun 10, Desa Air Sebayur.
Pengendara Keluhkan Kondisi Infrastruktur yang Sering Rusak
Lumpuhnya jalur ini menyebabkan antrean kendaraan mengular panjang hingga satu kilometer dari kedua arah. Para pengguna jalan, terutama sopir angkutan logistik, mengeluhkan kerugian waktu dan bahan bakar akibat insiden yang terus berulang di lokasi tersebut.
Rian (35), salah satu sopir yang terjebak di lokasi, menyatakan bahwa jembatan ini sudah sering memakan korban, terutama ketika intensitas hujan tinggi. Ia berharap ada langkah konkret dari pemerintah daerah untuk melakukan perbaikan permanen.
"Kami sangat berharap kepada Bapak Bupati agar jembatan ini segera diperbaiki secara permanen. Kalau hanya ditambal, kejadian seperti ini akan terus berulang," ujar Rian di lokasi kejadian.
Babinsa: Jembatan Simpang Batu Merupakan Jalur Vital Ekonomi
Babinsa Air Sebayur, Serma Antoni, mengonfirmasi bahwa kondisi jembatan memang sudah sangat memprihatinkan sebelum insiden ini terjadi. Menurutnya, jembatan tersebut merupakan urat nadi bagi mobilitas harian warga serta pengangkutan hasil bumi di wilayah Bengkulu Utara.
”Ini adalah jalur utama warga untuk mobilitas harian dan angkutan hasil bumi. Jangankan bermuatan berat, truk kosong pun seringkali terancam amblas. Perlu perhatian serius dan segera dari dinas terkait sebelum ada korban jiwa,” tegas Serma Antoni.
Bagaimana Kondisi Terakhir Proses Evakuasi di Lokasi?
Hingga pukul 12.00 WIB, proses evakuasi truk masih berlangsung secara manual. Warga setempat bersama personel TNI bahu-membahu mengangkat badan truk menggunakan dongkrak dan balok kayu agar bisa keluar dari titik amblas.
Untuk meminimalkan penumpukan kendaraan, petugas di lapangan memberlakukan sistem buka-tutup jalur. Namun, akses ini hanya diperuntukkan bagi kendaraan roda dua dan kendaraan kecil, sementara truk dan angkutan berat lainnya terpaksa menunggu proses evakuasi selesai sepenuhnya.