REJANG LEBONG — Booth Batik ChaCha Mentari mencatatkan aktivitas transaksi dan interaksi yang tinggi selama berlangsungnya pameran produk unggulan di Jakarta. Para pengunjung terlihat antusias mempelajari filosofi motif lokal hingga membeli produk kemeja pria yang dipamerkan oleh perajin asal Bumi Pat Petulai tersebut.
"Pada hari kedua ini, energi positif semakin terasa. Sejak pagi, booth sudah ramai dikunjungi para peserta yang tertarik dengan keindahan ragam batik, termasuk kemeja batik pria yang dipamerkan. Booth ini tidak hanya menjadi tempat berjualan, tetapi juga ruang interaksi yang hidup," kata Ratih Agung, Ketua Cabang XX Dim 0409 Koorcab Rem 041 PD XXI/ Radin Inten.
Motif Kaganga Rejang Lebong Jadi Daya Tarik Utama Pengunjung
Kehadiran batik ini mewakili Korem 041/Gamas sebagai wujud nyata pemberdayaan ekonomi bagi istri prajurit TNI AD. Selain pameran statis, wastra asal Bengkulu ini diperkenalkan melalui penayangan video dokumentasi yang memperlihatkan proses kreatif pembuatan kain dari awal hingga menjadi busana siap pakai.
Nuansa budaya semakin kental saat Ibu Pangdam II/Sriwijaya, Ibu Asti Kristomei, membawakan peragaan busana yang memadukan berbagai wastra Nusantara seperti batik Lasem dan kain tapis Lampung. Acara ini juga dilengkapi dengan diskusi mengenai teknik padu padan kain tradisional serta edukasi pemanfaatan layanan perbankan digital untuk pengembangan skala usaha UMKM.
Dari Teras Rumah Menuju Panggung Kreatif Nasional
Eksistensi Batik ChaCha Mentari bermula dari inisiatif Ely Susianti, seorang anggota Persit sekaligus ASN di Rejang Lebong. Ia secara telaten membimbing ibu rumah tangga di lingkungan tempat tinggalnya untuk memproduksi batik dengan motif Kaganga yang merupakan identitas budaya khas daerah tersebut.
Usaha yang dirintis dari teras rumah ini kini telah berkembang dengan memiliki tiga pengrajin tetap. Kapasitas produksinya saat ini mencapai 10 hingga 30 helai kain per bulan untuk menjaga kualitas dan eksklusivitas setiap produk yang dihasilkan.
Melalui program Persit Bisa, produk yang awalnya hanya dikenal di pasar lokal Bengkulu kini mendapatkan panggung untuk menjangkau konsumen yang lebih luas di level nasional. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat ekosistem ekonomi kreatif di tingkat kabupaten melalui pelestarian budaya lokal.