BENGKULU — Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Bengkulu mencatat realisasi KUR hingga Mei 2026 sudah menyentuh angka Rp 1,359 triliun. Kepala Kanwil DJPb Bengkulu, M. Irfan Surya Wardhana, menyebutkan dana tersebut sudah tersalur kepada 16.306 debitur yang tersebar dari pesisir hingga perbukitan.
“Penyaluran KUR ini menjadi instrumen penting pemerintah untuk memperkuat sektor UMKM agar terus tumbuh dan mampu bertahan di tengah tantangan ekonomi,” ujar Irfan, Rabu (13/5).
Kabupaten Mukomuko Serap Rp 256 Miliar, Lebong Cuma Rp 39 Miliar
Dari 10 kabupaten/kota di Bengkulu, Kabupaten Mukomuko mencatat serapan tertinggi. Wilayah yang berbatasan langsung dengan Sumatera Barat itu menyalurkan KUR sebesar Rp 256 miliar kepada 2.433 debitur. Angka ini hampir 19 persen dari total realisasi provinsi.
Di sisi lain, Kabupaten Lebong menjadi daerah dengan penyaluran paling rendah, hanya Rp 39 miliar untuk 706 debitur. Kontrasnya angka ini menunjukkan masih ada kesenjangan akses permodalan di daerah pegunungan yang akses transportasinya terbatas.
“Tertinggi ada di Mukomuko itu mencapai 256 miliar, sedangkan terendah ada di kabupaten Lebong yang hanya di angka 39 miliar,” tambah Irfan.
Pengawasan Ketat Agar Tepat Sasaran
DJPb Bengkulu memastikan tidak sekadar mengejar target penyaluran. Irfan menekankan pihaknya terus melakukan monitoring dan evaluasi agar kualitas pembiayaan tetap terjaga. “Kami terus melakukan monitoring dan evaluasi agar penyaluran KUR benar-benar memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat,” jelasnya.
Selain KUR, program pembiayaan melalui skema linkage seperti Permodalan Nasional Madani (PNM) juga menunjukkan perkembangan positif di Bengkulu. Skema ini menjadi alternatif bagi UMKM yang belum memenuhi syarat perbankan formal.
Dengan sisa waktu tujuh bulan, DJPb Bengkulu masih harus mengejar target penyaluran sekitar Rp 1,6 triliun lagi. Kabupaten Mukomuko diperkirakan akan kembali menjadi motor utama serapan KUR tahun ini.