Pencarian

Nelayan Kota Bengkulu Terjebak Utang Demi Solar, Harga BBM Subsidi Rp 6.800 Tak Bisa Diakses Tunai

Senin, 18 Mei 2026 • 13:07:01 WIB
Nelayan Kota Bengkulu Terjebak Utang Demi Solar, Harga BBM Subsidi Rp 6.800 Tak Bisa Diakses Tunai
Nelayan kecil di Bengkulu menghadapi kesulitan akses BBM subsidi karena sistem pembayaran tunai di SPBN.

BENGKULU — Nelayan skala kecil di pesisir Kota Bengkulu menghadapi dilema klasik setiap kali hendak melaut: akses bahan bakar minyak (BBM) subsidi bersyarat tunai, sementara kantong mereka kosong. Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) menjual solar seharga Rp 6.800 per liter, tapi tak melayani utang. Akibatnya, para nelayan terpaksa membeli dari pengecer dengan harga Rp 8.000 per liter—selisih Rp 1.200 yang memberatkan di tengah pendapatan tak menentu.

Modal Rp 1 Juta Sehari, Pulang Tangan Kosong

Dodi mengaku butuh modal sekitar Rp 1 juta per trip untuk melaut sejauh 20 hingga 40 mil. Rinciannya, 40 liter solar seharga Rp 640 ribu, tiga batang es balok Rp 100 ribu, ditambah bekal makan dan rokok. "Hari ini minus, tidak dapat uang. Ikan yang didapat dijual hanya cukup untuk membayar ABK serta ganti uang solar," katanya kepada Kompas.com.

Dua minggu terakhir, cuaca buruk membuat hasil tangkapan anjlok. Dodi yang sudah terutang Rp 10 juta lebih untuk biaya operasional harus kembali meminjam uang demi bisa melaut keesokan hari. "Pinjam uang bayar utang dan seterusnya. Bila hasil melimpah kami bayar utang, bila tidak dapat ikan kami berutang kembali," ujarnya.

SPBN Subsidi Tak Ramah Kantong Kosong

Keberadaan SPBN di wilayah Pasar Malabero seharusnya menjadi solusi. Namun, kebijakan pembayaran tunai membuat fasilitas itu tak terjangkau nelayan yang terbiasa bertransaksi dengan sistem utang. "Memang ada SPBN harga subsidi Rp 6.800, namun nelayan tidak bisa mengaksesnya karena harus uang cash. Nelayan di sini tidak punya uang cash," jelas Dodi.

Para nelayan mengaku tak keberatan membeli solar Rp 8.000 dari pengecer, asal bisa berutang. Sistem ini membuat mereka terus bergantung pada rentenir atau tengkulak. Bahkan, saat polisi pernah menangkap pengecer solar, warga justru protes karena menganggap pengecer membantu mereka bertahan.

Fase Gali Lubang Tutup Lubang

Dodi menggambarkan hidup nelayan sebagai siklus utang tanpa ujung. "Kami nelayan ini bertahan hidup dari utang. Harapannya utang dibayar kalau ikan dapat melimpah," keluhnya. Istri Dodi, Alfionita, menyambut kedatangannya di tepi pantai sambil menggendong bayi. Hari itu, tak ada uang yang bisa dibawa pulang untuk kebutuhan harian.

Persoalan akses BBM subsidi menjadi salah satu akar masalah yang membuat nelayan kecil di Bengkulu sulit keluar dari jerat kemiskinan. Hingga berita ini diturunkan, belum ada kebijakan dari Pemerintah Kota Bengkulu maupun Pertamina untuk menyesuaikan sistem pembayaran SPBN agar bisa melayani utang atau pembayaran non-tunai bertahap.

Bagikan
Sumber: regional.kompas.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks