BENGKULU — Keluhan mahasiswi di Kota Bengkulu soal harga mi instan yang merangkak naik mulai terdengar. Pasalnya, mi instan bukan sekadar camilan, melainkan menu pokok harian di kos-kosan yang mengandalkan budget terbatas.
“Dulu satu bungkus masih Rp 2.500, sekarang sudah Rp 3.000. Kalau beli lima bungkus sehari, selisihnya kerasa banget,” ujar seorang mahasiswi yang enggan disebutkan namanya, ditemui di sekitar kawasan Universitas Bengkulu, Senin lalu.
Ia mengaku, dalam sebulan, pengeluaran untuk mi instan bisa mencapai Rp 200 ribu. Kenaikan harga sekitar Rp 500 per bungkus membuatnya harus memutar otak mengatur keuangan.
Mi Instan Jadi Pilihan Nomor Satu Anak Kos
Bagi mahasiswa rantau, mi instan memang menjadi solusi praktis saat uang bulanan menipis. Cukup direbus, ditambah telur atau sayur seadanya, sudah bisa mengganjal perut hingga jam kuliah usai.
“Kalau lagi hemat, mi instan jadi andalan. Sekarang harganya naik, terpaksa kurangi jatah jajan lain,” tambah mahasiswi semester lima tersebut.
Fenomena ini bukan hanya terjadi di Bengkulu. Secara nasional, harga mi instan memang mengalami penyesuaian seiring kenaikan harga bahan baku gandum dan biaya distribusi.
Dampak Kenaikan Harga ke Mahasiswa Perantau
Kenaikan harga mi instan berdampak langsung pada pola konsumsi mahasiswa. Beberapa di antaranya mulai mencari alternatif lauk murah seperti tempe dan tahu agar pengeluaran tetap terkendali.
“Dulu beli mi instan lima bungkus sehari, sekarang paling tiga bungkus. Sisanya dimasak nasi sama lauk seadanya,” ujar mahasiswi lain di kos-kosan sekitar Kelurahan Jalan Gedang.
Pemilik warung di sekitar kampus juga merasakan dampaknya. Penjualan mi instan sempat turun karena pembeli mulai mengurangi jumlah belanja.
Fakta Singkat Kenaikan Harga Mi Instan di Bengkulu
- Harga mi instan naik sekitar Rp 500 per bungkus dari sebelumnya Rp 2.500 menjadi Rp 3.000.
- Mahasiswa rantau mengaku pengeluaran bulanan untuk mi instan bisa mencapai Rp 200 ribu.
- Kenaikan harga dipicu oleh kenaikan harga bahan baku gandum dan biaya distribusi nasional.
Belum ada pernyataan resmi dari distributor atau pabrikan mi instan di Bengkulu mengenai kebijakan harga terbaru. Namun, para pedagang di pasar tradisional dan warung kelontong sudah menerapkan harga baru sejak pekan lalu.