BENGKULU — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat garis kemiskinan makanan dan non-makanan di Provinsi Bengkulu mencapai Rp 683.820 per kapita per bulan pada Desember 2025. Angka ini naik Rp 12.725 atau 1,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp 671.100 per kapita per bulan.
Berdasarkan rincian data BPS, garis kemiskinan tersebut terdiri dari Rp 524.950 per kapita per bulan untuk kebutuhan makanan dan Rp 187.060 per kapita per bulan untuk kebutuhan non-makanan. Kenaikan ini menempatkan Bengkulu di peringkat kelima dari 10 provinsi di Sumatera berdasarkan besaran garis kemiskinan.
Jumlah Penduduk Miskin Berkurang, Tapi Tren di Perkotaan Meningkat
Meski garis kemiskinan naik, persentase penduduk miskin di Bengkulu justru turun. Per September 2025, angka kemiskinan tercatat 11,88 persen, berkurang 0,2 persen dibanding Maret 2025 dan turun dari 12,52 persen pada September 2024.
Secara absolut, jumlah penduduk miskin berkurang 250.190 jiwa pada September 2025 dibanding Maret 2025. Namun, data BPS menunjukkan disparitas antara wilayah perkotaan dan perdesaan. Penduduk miskin di perkotaan justru bertambah 7.120 jiwa menjadi 94.510 jiwa per September 2025. Sementara itu, penduduk miskin di perdesaan tercatat sebanyak 155.690 jiwa.
Apa Itu Garis Kemiskinan Versi BPS?
BPS mendefinisikan penduduk miskin berdasarkan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach), mengacu pada Handbook on Poverty and Inequality terbitan Bank Dunia. Penduduk dikategorikan miskin jika rata-rata pengeluaran per kapita per bulannya berada di bawah garis kemiskinan.
Garis kemiskinan ini menjadi acuan pemerintah daerah dalam merancang program intervensi, termasuk penyaluran bantuan sosial dan kebijakan pengendalian harga kebutuhan pokok. Data persentase penduduk miskin untuk wilayah perkotaan dan perdesaan dipublikasikan BPS setiap Maret dan September.
Kenaikan garis kemiskinan di Bengkulu sejalan dengan tren kenaikan harga kebutuhan pokok secara nasional. Meski begitu, penurunan persentase penduduk miskin mengindikasikan adanya perbaikan daya beli sebagian masyarakat di tengah tekanan inflasi.