BENGKULU — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu merilis data yang menunjukkan tekanan berat di sektor pertanian pada Juni 2026. Nilai Tukar Petani (NTP) tercatat ambles 2,52 persen dari bulan sebelumnya, menjadi 196,87. Angka ini menjadi alarm bagi daya beli petani di provinsi tersebut.
Penyebab NTP Jeblok: Harga Panen Turun, Biaya Produksi Justru Naik
Kepala BPS Provinsi Bengkulu, Win Rizal, menjelaskan bahwa penurunan NTP disebabkan oleh dua faktor yang berjalan berlawanan arah. Indeks Harga yang Diterima Petani (It) turun 1,96 persen, sementara Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) justru naik 0,57 persen.
“Turunnya NTP pada Juni 2026 menunjukkan bahwa penurunan harga yang diterima petani lebih besar dibanding kenaikan biaya yang harus dibayar petani. Kondisi ini memengaruhi daya tukar petani terhadap kebutuhan konsumsi maupun biaya produksi,” ujar Win Rizal dalam rilis resminya.
Subsektor Perkebunan Rakyat Paling Terpukul, Turun 3,58 Persen
Jika dirinci per subsektor, sektor tanaman perkebunan rakyat menjadi yang paling terpukul dengan penurunan NTP mencapai 3,58 persen. Komoditas utama seperti kopi dan kelapa sawit disebut menjadi biang keladi utama pelemahan ini.
Tak hanya perkebunan, subsektor peternakan juga turun 1,66 persen, sementara perikanan melemah 2,26 persen. Data ini mengonfirmasi bahwa tekanan harga tidak hanya terjadi di satu jenis komoditas, melainkan merata di beberapa sektor utama pertanian Bengkulu.
Hortikultura Jadi Satu-satunya Sektor yang Bersinar
Di tengah pelemahan di berbagai lini, subsektor hortikultura justru mencatatkan lonjakan NTP sebesar 13,86 persen. Subsektor tanaman pangan juga masih bertahan dengan pertumbuhan tipis 0,34 persen. Artinya, petani sayur dan buah-buahan di Bengkulu masih bisa menikmati margin yang lebih baik dibanding petani sawit atau peternak.
Surplus Ekspor Bengkulu Anjlok 69 Persen, Nyaris Tak Bertransaksi
Kondisi di sektor pertanian berbanding lurus dengan kinerja perdagangan luar negeri Bengkulu. BPS mencatat neraca perdagangan pada periode Januari hingga Mei 2026 memang masih surplus sebesar 15,74 juta dolar AS. Namun, angka ini anjlok hingga 69,16 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 51,03 juta dolar AS.
Penurunan nilai ekspor ini mengindikasikan bahwa permintaan global terhadap komoditas asal Bengkulu juga tengah lesu, memperparah tekanan yang sudah dirasakan petani di tingkat hulu.