Pencarian

Kehadiran Balita di Posyandu Desa Blau Masih Rendah, Kader Siap Jemput Bola ke Rumah Warga

Rabu, 08 Juli 2026 • 16:50:01 WIB
Kehadiran Balita di Posyandu Desa Blau Masih Rendah, Kader Siap Jemput Bola ke Rumah Warga
Kader Posyandu Desa Blau siap jemput bola untuk memantau tumbuh kembang balita di rumah warga.

LEBONG — Rembug Stunting Desa Blau, Kecamatan Lebong Atas, yang digelar Rabu (8/7/2026) di balai desa, menjadi ajang evaluasi program pencegahan stunting. Salah satu temuan paling menonjol adalah minimnya kehadiran balita di Posyandu, yang menjadi garda terdepan pemantauan tumbuh kembang anak.

Perwakilan BKKBN dalam forum tersebut menyebut masih banyak sasaran yang tidak rutin datang. Padahal, Posyandu berfungsi memantau berat badan, tinggi badan, status gizi, hingga perkembangan balita. Tanpa data rutin, potensi stunting sulit terdeteksi sejak dini.

Mengapa Orang Tua Enggan ke Posyandu?

Dalam rembug terungkap adanya persepsi keliru di masyarakat bahwa anak akan mengalami demam setelah mengikuti kegiatan Posyandu. Anggapan ini membuat sebagian orang tua memilih tidak lagi membawa anak mereka ke layanan kesehatan dasar tersebut.

Bidan Puskesmas Lebong Atas, Sumi, menegaskan bahwa persepsi itu tidak benar. Ia menjelaskan, Posyandu bukan sekadar tempat menerima makanan tambahan, melainkan sarana penting untuk memantau tumbuh kembang anak secara berkala.

“Yang paling utama di Posyandu adalah pemantauan pertumbuhan balita, mulai dari berat badan, tinggi badan hingga perkembangan anak. Dengan pemantauan rutin, gangguan pertumbuhan dapat diketahui lebih awal sehingga penanganannya bisa segera dilakukan,” jelas Sumi.

Solusi Kader: Jemput Bola dan PMT Berbasis Pangan Lokal

Untuk mengatasi rendahnya partisipasi, kader Posyandu mengusulkan pengadaan peralatan yang bisa dibawa saat melakukan kunjungan langsung ke rumah warga. Metode jemput bola ini diharapkan tetap bisa memantau tumbuh kembang balita sekaligus memberikan edukasi kepada keluarga yang selama ini belum aktif datang ke Posyandu.

Sumi juga mengingatkan bahwa pemberian makanan tambahan (PMT) tidak bisa hanya sekadar makanan. Menurutnya, PMT sebaiknya memanfaatkan bahan pangan lokal yang mengandung protein hewani agar kebutuhan gizi anak terpenuhi secara optimal.

Edukasi Tak Hanya untuk Balita, Tapi Juga Remaja Putri

Forum tersebut juga menyepakati perlunya edukasi menyasar remaja putri sebagai upaya mencegah anemia dan kekurangan gizi sebelum memasuki masa kehamilan. Selain itu, masyarakat diingatkan bahwa pernikahan usia dini merupakan salah satu faktor yang meningkatkan risiko lahirnya anak stunting.

Sekretaris Desa Blau, Eki, yang mewakili Pjs Kepala Desa Nori Yohanes, mengatakan seluruh hasil pembahasan dalam rembug akan menjadi bahan penyusunan program pembangunan desa tahun depan.

“Seluruh usulan yang disampaikan hari ini akan dibahas dalam Musyawarah Desa dan menjadi dasar penyusunan program serta penganggaran pada RAPBDes Tahun Anggaran 2027. Pencegahan stunting membutuhkan kerja sama seluruh pihak, mulai dari pemerintah desa, tenaga kesehatan, kader hingga masyarakat,” ujarnya.

Rembug Stunting Bukan Sekadar Forum Diskusi

Pendamping Desa Kecamatan Lebong Atas, Doni, menegaskan bahwa Rembug Stunting merupakan tahapan penting dalam perencanaan pembangunan desa, bukan sekadar forum diskusi biasa. Semua usulan yang disepakati harus menjadi perhatian pemerintah desa, termasuk kepala desa terpilih nantinya, untuk dibahas dalam Musyawarah Desa dan dituangkan dalam RAPBDes Tahun Anggaran 2027.

Bagikan
Sumber: jurnalisbengkulu.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks