REJANG LEBONG — Lapas Kelas IIA Curup yang membawahi tiga kabupaten di Provinsi Bengkulu ini menggarap lahan produktif di tengah keterbatasan kapasitas. Lembaga yang saat ini dihuni 663 Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) dari kapasitas ideal 250 orang itu menanam jagung, sawi, kacang panjang, buncis, tomat, hingga cabai.
Kepala Lapas Kelas IIA Curup, Untung Cahyo Sidarto, menyampaikan langkah ini selaras dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto serta 13 Program Akselerasi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas).
Hasil Panen untuk Kebutuhan Dalam Lapas dan Dijual ke Luar
"Hasil pertanian ini kami gunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam lapas dan ada juga yang dijual ke luar," ujar Untung di Rejang Lebong, Rabu.
Meski lahan yang diolah tergolong tidak luas, program ini menjadi salah satu pilar pembinaan kemandirian bagi warga binaan. Para narapidana dilibatkan langsung dalam proses pengolahan lahan hingga panen.
Harapan Dukungan Alsintan dari Pemda Setempat
Untuk memaksimalkan produktivitas, pihak Lapas Curup mengharapkan sinergi dan bantuan dari pemerintah daerah setempat. Kebutuhan utama yang disampaikan adalah penyediaan Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan) guna efisiensi pengolahan lahan.
"Kami sangat membutuhkan dukungan Alsintan untuk efisiensi pengolahan lahan. Harapan kami, jika tidak hibah, setidaknya dapat dipinjamkan untuk operasional warga binaan," katanya.
Overkapasitas 413 Orang, Situasi Tetap Kondusif
Dengan jumlah penghuni mencapai 663 orang, Lapas Kelas IIA Curup mengalami overkapasitas signifikan. Namun Untung memastikan situasi di dalam lembaga pemasyarakatan tetap aman, terkendali, dan kondusif.
Selain pertanian, Lapas Curup juga menjalankan program pembinaan lain bagi WBP. Pendidikan non formal berupa Paket A, B, dan C tersedia untuk meningkatkan kapasitas akademik warga binaan.
Pembinaan Keterampilan Kerja untuk Bekal Setelah Bebas
Pembinaan keterampilan kerja juga menjadi fokus utama, meliputi keterampilan mengelas, pangkas rambut, pengolahan kopi, budi daya perikanan, dan peternakan. Program ini dirancang sebagai bekal kemandirian ekonomi setelah warga binaan selesai menjalani masa pidana.
Langkah Lapas Curup ini menjadi contoh adaptasi institusi pemasyarakatan dalam mendukung program ketahanan pangan nasional, sekaligus menjawab tantangan overkapasitas dengan kegiatan produktif.