BENGKULU — Turnamen kembali ke Amerika Latin setelah 16 tahun, namun bayang-bayang pelanggaran HAM sempat memicu wacana boikot dari sejumlah negara. Belanda menjadi suara paling lantang, tapi seluruh tim tetap berlaga di Argentina.
Kempes Pulang dari Valencia, Maradona Dilewatkan
Pelatih Cesar Luis Menotti membangun skuad solid dengan kapten Daniel Passarella, Osvaldo Ardiles, dan Leopoldo Luque. Satu nama besar justru absen: Diego Maradona yang masih 17 tahun.
Kempes adalah satu-satunya pemain Argentina yang bermain di luar negeri. Ia dipanggil khusus dari Valencia dan baru tiba pada 8 Mei 1978, sementara rekan setim sudah berlatih sejak Februari.
Kepercayaan Menotti pada Kempes masuk akal. Striker itu baru dua musim beruntun jadi top skor La Liga — 24 gol (1976-1977) dan 28 gol (1977-1978) bersama Valencia.
Start Buruk di Fase Grup, Moncer di Babak Kedua
Di Grup 1 bersama Italia, Hungaria, dan Prancis, Kempes mandul tanpa satu gol pun. Argentina justru kalah 0-1 dari Italia di laga terakhir dan finis sebagai runner-up grup.
Sentuhan terbaik Kempes baru muncul di babak kedua. Ia mencetak dua gol ke gawang Polandia, lalu kembali menjebol gawang Peru dalam kemenangan telak 6-0 yang mengantar tim Tango ke final.
Pesta di Tengah Kontroversi Politik
Turnamen ini menjadi panggung pembuktian sepak bola Argentina di bawah tekanan internasional. Namun, sorotan terhadap junta militer tidak pernah benar-benar meredam euforia tuan rumah.
Kempes menutup turnamen dengan enam gol — produktivitas yang mengukuhkannya sebagai pemain kunci sekaligus ikon Piala Dunia 1978. Ia menjadi pahlawan yang menyatukan bangsa di tengah perpecahan politik.