BENGKULU — Nilai tukar rupiah yang terus ambrol hingga menyentuh Rp 18.001 per dolar AS pada Kamis (4/6/2026) mulai membebani neraca keuangan PT Kereta Api Indonesia (Persero). Beban itu datang dari dua pos utama: pengadaan komponen kereta yang masih impor dan pembelian bahan bakar solar nonsubsidi untuk sebagian armada.
Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, mengakui bahwa perusahaan tidak bisa menghindari dampak fluktuasi mata uang. “Ke operasional KAI tentunya berpengaruh, kan ada spare parts, masih kita beli dari luar,” ujarnya usai Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR, Kamis (4/6/2026).
Dua Beban Sekaligus: Impor Komponen dan Solar Pasar
Selain suku cadang, tekanan juga datang dari sektor energi. Kenaikan harga minyak dunia ikut mendorong biaya bahan bakar, mengingat tidak semua armada KAI menggunakan solar bersubsidi. Bobby menjelaskan, “Sebagian solar kita itu yang diesel, harga pasarnya juga naik.”
Artinya, KAI harus membeli solar dengan harga pasar yang melonjak seiring kenaikan harga minyak global. Dua tekanan ini—impor dan energi—secara bersamaan menggerus margin operasional perusahaan.
Keputusan Tegas: Tiket Tidak Naik
Meski beban operasional membengkak, KAI memilih tidak membebankan kenaikan biaya tersebut kepada penumpang. Bobby menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada rencana penyesuaian harga tiket. “Enggak ada, belum ada (kenaikan harga tiket),” katanya singkat.
Keputusan ini menjadi kabar lega bagi jutaan pengguna kereta api di tengah daya beli masyarakat yang tertekan oleh inflasi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi bulanan Mei 2026 sebesar 0,28 persen, lebih tinggi dibandingkan April yang hanya 0,13 persen.
Konflik Timur Tengah dan Suku Bunga AS Ikut Berperan
Pelemahan rupiah sendiri tidak berdiri sendiri. Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, kombinasi sentimen global dan domestik menjadi pemicu. Dari eksternal, investor masih mencermati eskalasi konflik di Timur Tengah—Israel melanjutkan operasi militer di Lebanon selatan, sementara Iran dilaporkan menembakkan rudal ke Kuwait dan Bahrain.
“Ketidakpastian masih berlanjut mengenai negosiasi antara Washington dan Teheran,” ujar Ibrahim, dikutip dari Antara. Di sisi lain, data lowongan kerja AS yang meningkat secara tak terduga pada April 2026 memperkuat spekulasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, semakin menekan mata uang negara berkembang seperti rupiah.
Analis memprediksi pergerakan rupiah masih fluktuatif dalam rentang Rp 17.960 hingga Rp 18.030 per dolar AS. Bagi KAI, ketahanan terhadap gejolak kurs menjadi ujian tersendiri di tengah komitmen menjaga tarif tetap terjangkau bagi masyarakat.